KKP Tanjung Priok Waspada Flu Burung

KKP Tanjung Priok Waspada Flu Burung
Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 sedang memeriksa kesehatan kru Kapal My Vuong (Vietnam) untuk mencegah masuknya penyakit ke Indonesia. ( Foto: Antara/Dhoni Setiawan )
Sabtu, 4 Februari 2012 | 00:04 WIB
Tes cepat  pun dilakukan agar tidak menghambat kelancaran perdagangan barang.

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Tanjung Priok menyatakan selalu siaga untuk penanggulangan flu burung dalam pemeriksaan awak kapal maupun muatan di pelabuhan tersebut.

"Kita selalu siap, selalu melakukan simulasi. Dan ada eskalasi (peningkatan) kegiatan jika pemerintah menetapkan ada wabah tertentu," kata Kepala KKP Tanjung Priok dr Azimal M.Kes dalam temu media di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (3/2)

Ia mengatakan pihaknya selalu memantau laman Badan Kesehatan Dunia (WHO) jika ada penyakit yang dinyatakan pandemi, dan melakukan langkah persiapan terutama dalam menangani kapal-kapal dari negara asal pandemi.

"Seperti misalnya wabah flu burung, kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh bagi kapal-kapal dari negara asal wabah," katanya.

Jika ada awak kapal yang memiliki gejala serupa dengan flu burung, KKP akan langsung merujuk awak kapal itu ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

"Waktu flu burung mewabah, kita pernah mengirimkan 13 suspek ke RSPI Sulianti Saroso meskipun kemudian dinyatakan negatif," ujar Azimal memberi contoh.

Selain flu burung, KKP juga melakukan pemantauan bagi sekitar 14 penyakit menular lainnya antara lain yellow fever (demam kuning), kolera, pes, ebola, SARS, anthrax, malaria dan AIDS.

"Kami menggunakan rapid test (tes cepat) untuk memeriksa awak kapal karena kami juga tidak boleh menghambat jalannya perdagangan barang," imbuh Azimal.

KKP juga bekerja sama erat dengan pihak lain seperti kementerian pertanian untuk melakukan karantina hewan dan tumbuhan, jika diduga membawa virus penyakit yang sedang mewabah di negara asalnya.

"Bahkan waktu gempa di Jepang beberapa waktu lalu, kita juga melakukan pemeriksaan tingkat radiasi bagi penumpang maupun barang," katanya.

Jika ada kapal yang awaknya menderita penyakit menular, Kantor Syahbandar Pelabuhan akan melarang kapal itu untuk bersandar di pelabuhan.

"Karantina (KKP) harus mengeluarkan clearance (surat izin), imigrasi harus mengeluarkan izin, bea cukai juga, baru Pelindo menyediakan fasilitas untuk bongkar muat," kata Zulfahmi Syahwal dari Kantor Syahbandar.

Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia dengan sekitar 20 ribu kapal berlabuh tiap tahunnya.