Dermatitis Atopik, Penyakit Tersering Serang Kulit

Dermatitis Atopik, Penyakit Tersering Serang Kulit
Dermatitis atopik (DA) menjadi bahasan dalam media gathering #SOHObetterU pada Selasa (15/12). Bahasan tersebut diangkat karena DA merupaakn penyakit yang paling sering menyerang kulit. ( Foto: Indah Handayani/Investor Daily / Indah Handayani )
Indah Handayani / MUS Selasa, 15 Desember 2015 | 22:38 WIB

Jakarta - Kulit merupakan pertahanan pertama tubuh terhadap benda asing dan juga organ terbesar tubuh dengan luas permukaan total mencapai sekitar 2 meter persegi dan berat 3,6 kg. Kulit terdiri atas tiga lapisan, yaitu pidermis dan dermis, serta lapisan lemak di bawah kulit yang disebut dengan hipodermis.

Sayangnya, sebagai bagian terluar dari tubuh manusia kulit sering terpapar polusi dan juga radikal bebas. Hal ini tentunya dapat membuat kulit terlihat kusam dan sangat rentan terserang penyakit. Salah satu penyakit yang sering menyerang kulit adalah dermatitis atopik (DA).

Dermatitis atopik atau lebih dikenal dengan istilah eksim atopik adalah radang pada kulit berbentuk ruam yang timbul hanya pada orang yangmemiliki kulit sensitif dan mudah teriritasi. Gangguan pada kulit ini terjadi dalam jangka waktu lama, sewaktu-waktu dapat kambuh dan tidak bisa hilang.

Umumnya, DA diderita oleh anak, khususnya anak yang berumur kurang dari 5 tahun dengan prevalensi 9-21%. Namun, DA juga dapat diderita oleh orang dewasa dengan prevalensi diperkirakan 2-10%.

Dokter spesialis kulit dan kelamin RS Bunda Jakarta dr Rachel Djuanda, SpKK, menjelaskan, penderita dermatitis atopik memiliki kulit yang sangat kering, karena rendahnya produksi ceramide, terutama ceramide tipe 1 pada bagian mortar, atau semen kulit.

“Ini akan mengakibatkan fungsi pelindung kulit berkurang, sehingga kemampuan kulit untuk menampung air dan siklus hidup korneum epidermis memendek,” ungkap dia, di sela media gathering #SOHObetterU di Jakarta, Selasa (15/12).

Menurut dr Rachel, jika fungsi pelindung kulit berkurang akan mempermudah masuknya berbagai macam benda asing, seperti bakteri dan jamur.

Hal tersebut menyebabkan reaksi inflamasi, atau peradangan yang akan merangsang pengeluaran mediator-mediator inflamasi dan menyebabkan timbulnya gejala yang dirasakan penderita. Misalnya saja, lesi ecze-matosa, xerosis, lichenification, dan prutitus hebat.

“Itu akan memancing penderita untuk menggaruk area yang gatal tersebut. Padahal, menggaruk malah akan memperburuk kemampuan fungsi pelindung kulit,” ujarnya.

Sumber: Investor Daily
CLOSE