Sisi Negatif Wearable Fitness Tracker (2)

Sisi Negatif Wearable Fitness Tracker (2)
ilustrasi wearable fitness tracker ( Foto: www.shutterstock.com )
Parina Theodora / TH Rabu, 30 Desember 2015 | 16:09 WIB

JAKARTA - Sebuah riset yang dijalankan oleh Rikke Duus, Senior Teching Fellow untuk Marketing di UCL dan Mike Cooray dari Fakultas Strategi dan Inovasi Ashridge Business School melihat wearable fitness tracker dari sisi negatif dibanding positif. Padahal, teknologi wearable ini semakin menjadi tren dan semakin berkembang.

Namun, benarkah teknologi jenis ini hanya memberikan sisi positif bagi kita? Atau menimbulkan ketergantungan?

Seperti dikutip dari Independent.co.uk, riset Duus dan Cooray meneliti sekitar 200 wanita yang selalu menggunakan tracker aktivitas Fitbit. Terungkap bahwa kebanyakan pengguna bahkan menerima gelang Fitbit tersebut sebagai bagian dari dirinya dan tidak memandangnya sebagai teknologi eksternal. Sebanyak 89% wanita yang diteliti menggunakan Fitbit secara konstan dan hanya melepasnya ketika mengisi baterai. Teknologi ini, mereka sebut "always on, always on me," atau selalu menyala dan selalu untuk diri mereka.

Temuan lain, terungkap bahwa Fitbit turut mempengaruhi keputusan yang dibuat para wanita ini untuk membangun kehidupan sehari-hari. Fitbit memiliki dampak kuat pada wanita untuk menentukan keputusan mengenai diet mereka, berolahraga serta bagaimana mereka bepergian dari satu tempat ke tempat lain.

Sebanyak 91% partisipan wanita ini memilih berjalan dengan rute lebih jauh untuk memenuhi jumlah langkah yang mereka ambil, mereka juga menghitung jumlah olahraga per minggu. Selain itu, 56% partisipan studi ini juga meningkatkan kecepatan berjalan mereka untuk menenuhi target Fitbit. Sebanyak 76% wanita ini juga mengganti pola makan mereka menjadi lebih sehat dengan lebih banyak makan makanan sehat dan porsi sedikit.

Nah, sebanyak 88% wanita dalam studi ini mempercayai Fitbit sebagai alat penting untung menghuitung aktivitas harian mereka, sebanyak 84% wanita suka mengecek papan skor mereka sebanyak dua kali sehari. Mereka mencari pesan "hooray" atau "champ" jika target berhasil dilakukan.

Tentusaja bagi Duus dan Cooray, sangat menarik melihat bagaimana ketergantungan wanita akan wearable fitness tracker ini. Hasil studi lain menyebutkan, 68% wanita menganggap Fitbit sebagai teman untuk mencapai target mereka. Sebanyak 99% merasa jika mereka bisa mencapai target harian akan meningkatkan kebahagiaan, kepuasan diri (100%), bangga (98%), dan motivasi (98%). Sebanyak 77% wanita mengatakan akan kembali ke rumahnya untuk mengambil Fitbit yang tertinggal.

(bersambung)

Sumber: Independent.co.uk