Studi AS: Anak Rentan Menelan Baterai Kancing

Studi AS: Anak Rentan Menelan Baterai Kancing
Selasa, 15 Mei 2012 | 16:55 WIB
Banyak ditemukan pada mainan anak, remote kontrol, dan alat bantu dengar.

Anak-anak memiliki risiko tinggi akibat baterai kancing, karena benda ini ternyata dapat menyebabkan luka bakar elektrik atau kimia jika tertelan.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa jumlah pasien anak-anak di unit gawat darurat (UGD) meningkat dua kali lipat selama dua dekade terakhir. Ini terjadi karena mereka menelan baterai kancing.

Rentannya anak-anak menelan  baterai berbentuk koin itu, karena mudah ditemui pada mainan anak, remote kontrol dan alat bantu dengar.

Menurut sebuah penelitian di Pediatrics, jurnal Ilmu Kedokteran Anak Akademi Amerika, baterai tersebut merupakan benda yang menarik bagi balita dan anak-anak karena warnanya yang mengkilap.

Para peneliti mengatakan, bahwa baterai kancing memiliki risiko ekstra karena dapat mengirimkan arus listrik lewat jaringan kerongkongan, hingga akhirnya dapat membakar dan membentuk sebuah lubang di kerongkongan (trakea), tanpa menunjukkan gejala cedera langsung pada anak.

"Jika seorang anak menelan baterai kancing, sementara orangtuanya mungkin tak menyaksikan langsung kejadiannya dan anak itu awalnya tidak mengalami gejala kesakitan, maka waktu akan berjalan begitu cepat," kata Gary Smith, Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Cedera Rumah Sakit Anak Nationwide di Columbus, Ohio.

“Kami pernah menemukan kasus sejumlah anak yang dalam waktu kurang dari dua jam sudah mengalami kondisi parah, mengalami luka parah karena baterai kancing menyangkut di kerongkongan," imbuhnya yang juga salah satu peneliti riset tersebut.

Smith dan rekan peneliti lain menemukan, selama periode 1990 hingga 2009, lebih dari 65.000 anak berusia kurang dari 18 tahun, dilarikan ke UGD gara-gara baterai kancing. Mereka mendapatkan kasus tersebut dengan mengambil contoh nasional dari sekira 100 rumah sakit dengan UGD 24 jam.

Angka cedera pada anak meningkat hampir dua kali lipat selama periode penelitian tersebut, dari sekira empat hingga antara tujuh dan delapan dari 100.000 anak.

Hal tersebut kemungkinan terjadi, karena semakin banyaknya peralatan elektronik rumah tangga, alat bantu dengar dan mainan, yang menggunakan baterai kancing daripada baterai tabung. Lebih dari 80 persen anak-anak yang dirawat di UGD disebabkan oleh baterai kancing.

"Baterai jenis itu mengkilap dan mungil. Apalagi anak-anak senang sekali memasukkan benda-benda di sekitar mereka ke dalam mulut," kata Nicholas Slamon, dokter spesialis anak yang pernah menangani anak dengan luka akibat baterai kancing di Rumah Sakit Anak Nemours/Alfred I. DuPont, Wilmington.

Ia menambahkan, baterai kancing dapat melukai anak dengan berbagai cara. Tak hanya itu, baterai itu juga bisa tersangkut atau terjepit di kerongkongan hingga mendorong ke dinding kerongkongan. Jika lapisan pelindung baterai tersebut sudah terkikis, kandungan asam di dalamnya bisa bocor.

Namun kekhawatiran yang paling sering dihadapi adalah baterai itu dapat menciptakan arus listrik melalui jaringan tipis di dalam kerongkongan, bahkan jika di dalamnya sudah tidak terdapat cairan energi untuk mengendalikan remote kontrol lagi.

Slamon dan rekannya melihat sejumlah anak berusia satu tahun yang memerlukan operasi bedah darurat untuk mengeluarkan sebuah baterai dari dalam kerongkongan, hidung atau telinga. Namun hanya sedikit kasus gawat darurat, sekitar delapan persen, yang memerlukan operasi bedah tersebut.

Beranjak dari temuan itulah, para ahli menyarankan orangtua harus memastikan semua bagian pada tempat baterai telah disekrup atau ditutup. Terlebih lagi, baterai yang sudah tidak digunakan harus dibuang ke bagian paling bawah tempat sampah, sehingga tidak mudah ditemukan oleh anak-anak, tambahnya.
 
 "Cara yang benar untuk mencegah kasus darurat seperti itu adalah mencegah kejadian itu sejak awal. Jika orang tua mencurigai sesuatu, mereka harus segera ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan sinar X (radiologi) sesegera mungkin," sarannya Smith.