Terapi Sel Punca Diprediksi Akan Meningkat di Indonesia

Terapi Sel Punca Diprediksi Akan Meningkat di Indonesia
dr. Gita Pratama, SpOG(K), MRepSc saat berbicara di “3rd Open Scientific Meeting: Beyond Stem Cells: Cellular and Metabolic Approach for Regenerative Medicine”, Jakarta, Kamis 20 September 2018. ( Foto: ist )
Yudo Dahono / YUD Kamis, 20 September 2018 | 17:55 WIB

Jakarta - Terapi sel punca diprediksi akan semakin meningkat di Indonesia seiring terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 tahun 2018. Permenkes tersebut mengatur tentang penyelenggaraan terapi yang memungkinkan proses penyembuhan pasien dilakukan dengan temuan tersebut. Terapi sel punca disebut-sebut sebagai harapan baru dunia kedokteran untuk menjawab pengobatan berbagai penyakit yang selama ini kerap diklaim sebagai sulit disembuhkan.

“Riset pengembangan di bidang sel punca semakin pesat di dunia dan di Indonesia. Kami memprediksi adanya peningkatan minat dan permintaan, baik dari profesional medis maupun masyarakat awam akan terapi sel punca maupun terapi berbasis sel,” ujar Dr. dr. Ismail Hadisoebroto Dilogo, SpOT(K) Chairman of Asosiasi Sel Punca Indonesia dalam “3rd Open Scientific Meeting: Beyond Stem Cells: Cellular and Metabolic Approach for Regenerative Medicine” di yang berakhir hari ini di Jakarta, Kamis (20/9).

Simposium digelar UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca dan Stem Cells and Tissue Engineering Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Sel Punca Indonesia. Ratusan ahli kedokteran dalam dan luar negeri hadir dibuka oleh Dr. Agr. Taufiq Wisnu Priambodo, Direktur Inovasi dan Inkubator Bisnis UI.

Taufiq mengapresiasi kemajuan penelitian dan aplikasi sel punca oleh Fakultas Kedokteran UI sebagai pembuktian kepada publik bahwa riset inovasi yang dihasilkan universitas tidak hanya berhenti di laboratorium namun sudah banyak yang bisa diaplikasikan untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

“Sel punca atau stem cell saat ini menjadi topik riset yang sedang naik daun di kalangan peneliti, menjadi harapan bagi para klinisi dalam mengupayakan kesembuhan bagi penderita penyakit-penyakit degeneratif maupun end stage,” ujar Taufiq.

Dia melihat sel punca sebagai suatu inovasi yang tidak hanya menghasilkan komoditas yang bernilai ekonomis, tetapi juga menjanjikan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Secara terpisah, Wakil Rektor Bidang III Riset dan Inovasi Universitas Indonesia, Rosari Saleh, mengatakan UI terus berkomitmen mengembangkan riset dan inovasi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

“Penelitian lanjutan kami terkait sel punca akan lebih banyak juga untuk penyakit diabetes dan stroke,” ujar Rosari.

Terapi sel punca atau stem cell adalah sebuah terobosan kedokteran untuk mereparasi sel yang rusak dengan menanamkan sel baru dengan jenis dan fungsi yang sama. Terapi ini sudah terbukti berhasil menolong banyak pasien di dua rumah sakit yang sudah mengembangkannya yakni RS Ciptomangunkusumo Jakarta dan RS dr Soetomo Surabaya. Ada dua jenis terapi sel punca yakni autologus jika sel punca diambil dari tubuh pasien dan alogenik yakni sel punca yang diambil dari organ tubuh orang lain.

Ismail mengatakan bersamaan dengan peningkatan permintaan terapi sel punca ada kebutuhan untuk mengedukasi tenaga kesehatan dan masyarakat awam mengenai terapi baru ini. Karena itu, panitia juga menggelar khusus untuk awam untuk membedah terapi sel punca antara mitos dan fakta. Seminar itu diharapkan bisa menjawab pertanyaan tiada henti yang muncul dari pasien yang tertarik menjalani pengobatan dengan sel punca.

Sementara dr. Gita Pratama, SpOG(K), MRepSc Ketua Panitia Simposium, mengatakan topik bahasan akan focus pada mengatasi masalah dari dasar biologis hingga aplikasi klinis sel punca, metabolit sel punca serta bioteknologi dan biomaterial.

“Kami percaya bahwa forum ini dapat menjelaskan kemajuan dan masa depan sel punca di Indonesia,” turur Gita.

Dua rumah sakit yang awal menerapkan terapi sel punca adalah Rumah Sakit Cipto Mangukusumo (RSCM) dan RS dr Soetomo, Surabaya dan disusul lebih dari 9 rumah sakit saat ini. Terapi sel punca terdiri dari dua jenis transplantasi, yaitu autologus dan alogenik. Autologus adalah sel punca yang dibuat dari organ tubuh sendiri, sedangkan alogenik adalag sel punca yang diambil dari organ tubuh orang lain.

Terapi sel punca dinyatakan sudah memberikan manfaat baik baik penanganan lebih dari 200 pasien diabetes mellitus, nyeri sendi lutut, stroke, jantung, hati hingga penyakit darah berbahaya di RSCM.



Sumber: BeritaSatu.com