Penelitian Terbaru Ungkap Risiko Rokok Elektrik

Penelitian Terbaru Ungkap Risiko Rokok Elektrik
Ilustrasi ( Foto: Huffingtonpost )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 19 Oktober 2018 | 04:10 WIB

Bahkan meskipun Anda sudah memeriksa daftar kandungan cairan yang digunakan dalam rokok elektrik, Anda mungkin tetap tidak tahu apa yang sebetulnya Anda isap.

"Perisa kimia dan pelarut, (yang membentuk) cairan itu, dan berada di dalam rokok elektrik, mereka bisa membentuk senyawa kimia baru," kata Sven Jordt, salah satu peneliti dalam laporan yang dirilis Kamis (18/10) di jurnal Nicotine and Tobacco Research.

Jordt adalah juga pengajar ilmu anestesi, farmasi, dan cancer biology di Fakultas Kedokteran Duke University.

Senyawa-senyawa baru ini bisa menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan pemakai rokok elektrik, menurut para peneliti tersebut.

"Hidung, mulut, dan tenggorokan kita memiliki ujung saraf yang bisa merasakan kandungan kimia yang menyakitkan atau pedih dalam udara yang dihirup. Misalnya rasa panas dan menyengat saat mengisap rokok, dimediasi oleh ujung saraf ini. Ujung-ujung saraf tersebut juga bisa memicu bersin dan batuk, pada dasarnya untuk menjaga paru-paru dari zat kimia beracun yang dihirup," kata Jordt.

"Kimia baru yang kita temukan dalam rokok elektrik mengaktifkan ujung saraf ini secara lebih kuat. Apalagi kalau diaktifkan dalam periode lebih lama, seperti pada para perokok, dan kemungkinan juga pada pemakai rokok elektrik, mekanisme ini telah terbukti menyebabkan radang dan asma, dan juga emphysema (pembengkakan pada kantung udara paru-paru)."

Rokok eletrik, atau biasa disebut vape, digunakan dengan cara memanaskan cairan murni atau e-juice -- yang mengadung perisa, propylene glycol, glycerin, dan kadang-kadang nikotin -- untuk menghasilkan asap.

Para peneliti menguapkan dan kemudian melakukan analisis kimiawi terhadap 10 jenis cairan vape, bersama dua perisa dan propylene glycol dengan lima rasio berbeda untuk masing-masing perisa. Rasio propylene glycol adalah jumlah pelarut yang dipakai dalam cairan. Cairan itu dibeli dari situs AmericaneLiquidStore.

Para peneliti juga menciptakan dan menganalisis cairan yang mereka buat sendiri yang mengandung perisa (disebut juga aldehydes) dan pelarut yang banyak dipakai industri rokok elektrik.

Analisis ini menunjukkan bahwa 40% dari aldehydes dengan perisa berubah menjadi senyawa baru yang disebut aldehyde PG acetals. "PG" adalah singkatan dari propylene glycol, pelarut yang digunakan dalam cairan itu.

Perisa yang dipakai adalah vanila, ceri, dan kayu manis, dengan nama kimia vanillin dan ethylvanillin, benzaldehyde dan cinnamaldehyde.

Ketika cairan yang dibuat para peneliti itu berubah menjadi uap atau e-vapor, kandungan acetals yang terbawa antara 50% dan 80%. Artinya "aldehyde PG acetal dalam porporsi signifikan akan masuk saluran pernafasan selama aktivitas vaping", menurut penelitian itu.

Senyawa baru yang terbentuk juga bersifat stabil di air atau larutan fisiologis lainnya, sehingga bisa bertahan di dalam tubuh selama beberapa waktu dan punya dampak yang belum banyak diketahui, kata Jordt.

Acetals ini tidak tertulis dalam label kandungan e-liquid, karena terbentuk setelah produk tersebut dicampur, kata para peneliti tersebut.

Jordt mengatakan para produsen rokok elektrik umumnya mengklaim bahwa mereka menggunakan kimia, nikotin, dan pelarut yang sudah umum dan tidak akan ada perubahan kalau semuanya dicampur. Akibatnya, para pengguna meyakini bahwa mereka tahu sedang terpapar apa.

"Kami menyambut tambahan penelitian lagi di area ini," kata Gregory Conley, Presiden Asosiasi Vaping Amerika atau American Vaping Association, menanggapi hasil penelitian tersebut.

Asosiasi tersebut adalah organisasi nirlaba yang membantu perumusan regulasi produk-produk vape tetapi disponsori oleh perusahaan-perusahaan pembuat produk vape.

"Penting untuk dipahami oleh para perokok dewasa bahwa tidak ada dalam penelitian ini yang bisa mengubah kesimpulan dari organisasi-organisasi terkemuka seperti Royal College of Physicians dan Public Health England -- keduanya memperkirakan bahwa vaping sedikitnya 95% kurang berisiko dibandingkan merokok," kata Conley.

Riset yang menjadi rujukan dia membantah hasil-hasil penelitian lain bahwa vaping lebih berbahaya daripada rokok tradisional.

Namun, riset terbaru tersebut membenarkan kecurigaan banyak orang selama ini, termasuk Ilona Jaspers, profesor di bidang pediatrik, mikrobiologi, imunologi, dan ilmu lingkungan di University of North Carolina.

"Ini jenis kimia yang sangat reaktif, dan akan naif kalau kita berpikir kimia itu akan terisolasi, tidak bereaksi, dan tidak menyebabkan produk sekunder dan tertier ketika dicampurkan," kata Jaspers. Dia tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

"Masalahnya adalah, bahkan meskipun sebagian produk yang ada di pasar sekarang telah mencantumkan daftar kandungan, tetapi konsumen sama sekali tidak tahu -- pada akhirnya mereka akan terpapar zat apa."



Sumber: CNN