Kemkes Rekrut 1.800 Petugas Kesehatan Haji

Kemkes Rekrut 1.800 Petugas Kesehatan Haji
Tim medis yang bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah siaga 24 jam melayani pasien jemaah calon haji. ( Foto: Dok. Humas Kemkes )
Dina Manafe / FER Jumat, 11 Januari 2019 | 21:44 WIB

Jakarta - Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Puskeshaji) sedang merekrut calon Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) yang akan ditugaskan ke Mekkah dalam operasional haji tahun 2019. Dari 11.300 tenaga kesehatan yang mendaftar, Kemkes akan menetapkan 1.800 tenaga kesehatan yang akan ditugaskan sebagai TKHI dan PPIH.

Kapuskeshaji Kemkes, Eka Jusup Singka, mengungkapkan, dari jumlah yang direkrut tersebut, sebanyak 1.521 orang adalah petugas TKHI dan PPIH bidang kesehatan 306 orang, termasuk di dalamnya Tim Asistensi dan Manajerial.

"Jika dilihat memang belum ada penambahan petugas. Masih sama seperti tahun 2018," kata Eka dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (11/1).

Menurut Eka, proses rekrutmen mengacu kepada Permenkes Nomor 3/2018 tentang Rekruitmen PPIH, TKHI dan tenaga pendukung kesehatan. Penentuan tenaga kesehatan ini sangat ketat, mengingat jumlah kuota yang terbatas. Penentuan petugas bukan atas dasar reward atau arisan.

Eka menambahkan, dalam Permenkes Nomor 3/2018 pasal 9 disebutkan, dalam hal dibutuhkan untuk menunjang penyelenggaraan kesehatan haji, rekrutmen PPIH Arab Saudi bidang kesehatan, TKHI, dan TPK dapat dilakukan melalui penunjukan.

Rekrutmen dengan penunjukan didasarkan pada kebutuhan operasional kesehatan haji dengan mempertimbangkan keahlian tertentu, misalnya pengalaman kerja sebagai petugas kesehatan haji, serta izin dari atasan petugas yang ditunjuk.

Namun, jelas Eka, tidak sedikit para kepala instansi atau satuan kerja yang menganggap bahwa penentuannya didasarkan arisan, yaitu gantian.

"Bagi saya ini keliru. Harus diluruskan. Kita di sana itu kerja. Maka orang yang bagus kerjanya harusnya bisa diizinkan untuk kerja lagi," tegasnya.

Menurut Eka, rekruitmen tahun ini akan lebih diperketat dengan adanya mekanisme wawancara dan tes napza yang dilakukan bersama RS Ketergantungan Obat (RSKO) di Cibubur, Jakarta. Selain itu tes kebugaran dan MMPI akan dilaksanakan saat pelatihan kompetensi. Kegiatan ini langsung dikelola oleh Puskeshaji.

Eka berharap, setelah terpilih petugas hendaknya kembali ke daerahnya untuk melaksanakan pembinaan kesehatan bagi jemaah haji yang akan berangkat haji tahun 2019.



Sumber: Suara Pembaruan