90% Kasus Patah Tulang Tidak Perlu Operasi

90% Kasus Patah Tulang Tidak Perlu Operasi
Ilustrasi pengapuran tulang (Foto: istimewa )
Dina Manafe / IDS Selasa, 22 Januari 2019 | 00:00 WIB

Jakarta - Minimnya pemahaman membuat masyarakat kerap mengambil keputusan yang keliru dalam mengatasi gangguan kesehatan yang dideritanya, seperti ketika mengalami saraf terjepit dan patah tulang. Faktanya, tidak sedikit orang memilih dukun patah tulang atau tukang urut untuk mengatasi gangguan yang dideritanya dibanding ke dokter. Sebab, ada anggapan bahwa patah tulang atau saraf kejepit selalu harus dioperasi. Padahal, 90% kasus-kasus ini tidak selalu berakhir di meja operasi.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), dr Phedy mengatakan, dalam kasus-kasus ortopedi (tulang) dan saraf kejepit, operasi selalu menjadi pilihan terakhir, apalagi jika keluhannya hanya sakit di betis atau lutut, bisa diselesaikan tanpa operasi.

“Hanya 10% sampai maksimal 15% kasus ortopedi itu selesai dengan operasi. Jadi jangan bayangkan kalau ke dokter ortopedi pasti selalu dioperasi, tidak demikian,” kata Phedy pada media gathering SHKJ, Jakarta, Senin (21/1).

Menurut Phedy, tulang adalah organ tubuh yang paling unik karena mampu meregenerasi dirinya sendiri secara sempurna. Artinya, tulang yang patah bisa sembuh dengan sendiri seiring waktu tanpa perlu dilakukan operasi. Peran operasi hanyalah untuk memposisikan tulang yang sudah patah dalam kondisi yang benar ketika sembuh nantinya.

Kasus patah tulang paha, misalnya, bisa saja sembuh dengan hanya pengobatan tradisional atau ditangani dukun patah tulang. Persoalannya, seringkali ditemukan pasien datang ke dokter dengan posisi tulang paha yang tidak dibenarkan posisinya. Pasien kemudian sembuh dengan posisi tulang menjadi melengkung. Ketika tulang melengkung, salah satu bagian kaki akan jadi lebih pendek dan menyebabkan pasien berjalan pincang.

“Jadi, tulang itu bisa sembuh dengan sendirinya, waktu akan menyembuhkan. Tugas dokter adalah mempertahankan posisinya bagus dan merangsang pergerakan secepat mungkin, sehingga tidak menemukan lagi pasien yang sembuhnya selama berbulan bulan, dan setelah tulang sembuh sendi-sendinya menjadi kaku karena tidak pernah digerakkan. Lalu, tulang menjadi keropos karena tidak pernah dipakai,” kata Phedy.

Karena itu, lanjutnya, masyarakat tidak perlu takut ke dokter tulang ketika mengalami gangguan tulang atau saraf kejepit karena tidak semua kasus harus dioperasi. Paling sering pasien ditangani dengan tindakan minimal invasif, misalnya hanya dengan fisioterapi, obat-obatan, suntikan, dan laser.

Hanya kasus-kasus emergensi yang membutuhkan operasi, seperti cauda equina syndrome (akar saraf di bagian bawah saraf tulang belakang mengalami tekanan). Ketika menemukan tanda-tanda seperti gangguan buang air besar dan buang air kecil, serta rasa baal di anus, maka satu-satunya pilihan adalah operasi. Tujuan operasi adalah untuk mencegah kerusakan saraf yang lebih parah.

“Kalau gejala yang muncul baru beberapa hari, mungkin operasi bisa pulih total. Tetapi kalau sudah dibiarkan selama 2 tahun sampai tidak bisa buang air besar, dan jari-jarinya lemah, maka sulit untuk dikembalikan ke kondisi normal. Operasi dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut,” kata Phedy.



Sumber: Suara Pembaruan