Prevalensi Kanker di Indonesia Meningkat

Prevalensi Kanker di Indonesia Meningkat
Penyintas kanker payudara mengikuti fun walk untuk menperingati bulan peduli kanker payudara internasional di kawasan Car Free Day, Jakarta, Minggu (7/10). ( Foto: Suara Pembaruan/Dina Manafe )
Dina Manafe / FMB Kamis, 31 Januari 2019 | 17:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyakit kanker masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemkes) menyebutkan prevalensi penyakit kanker mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1.79 per 1000 penduduk, naik dari tahun 2013 sebanyak 1.4 per 1000 penduduk.

Riset ini juga menemukan, prevalensi tertinggi ada di Yogyakarta sebanyak 4.86 per 1000 penduduk, disusul Sumatera Barat 2.47, dan Gorontalo 2.44.

Data lainnya, Globocan tahun 2018 menunjukkan kejadian penyakit kanker di Indonesia sebanyak 136.2 per 100.000 penduduk. Angka ini menempatkan Indonesia di urutan kedelapan dengan kasus terbanyak di Asia Tenggara, dan peringkat ke-23 se-Asia. Angka kejadian tertinggi pada laki-laki adalah kanker paru sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk. Disusul kanker hati dengan kejadian sebesar 12,4 per 100.000 penduduk, dan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk.

Sedangkan pada perempuan, kasus tertinggi adalah kanker payudara sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000. Setelah itu kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Anung Sugihantono, mengungkapkan, pemerintah telah melalukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengendalian penyakit kanker. Terutama pengendalian dua jenis kanker dengan kasus terbanyak di Indonesia, yaitu kanker payudara dan leher rahim.

"Kami optimalkan upaya deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun dengan menggunakan metode pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS untuk payudara, dan IVA untuk kasus leher rahim," kata Anung pada acara temu media di Kantor Kemkes, Jakarta, Kamis (31/1).

Selain upaya tersebut, lanjut Anung, Kemkes juga mengembangkan program penemuan dini kanker pada anak, pelayanan paliatif kanker, deteksi dini faktor risiko kanker paru, dan sistem registrasi kanker nasional.

Untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, menurut Anung, perlu adanya upaya masif yang dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Pentingnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Lebih dini penyakit ditemukan, dan mendapat penanganan sejak awal, maka peluang untuk sembuh pun jauh lebih besar.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman penyakit kanker, tanggal 4 Februari tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Tahun ini, Hari Kanker Sedunia mengusung tema "I Am and I Will" atau "Saya adalah dan Saya Akan".

"Tema ini bermakna mengajak semua pihak untuk menjalankan perannya masing masing dalam mengurangi beban akibat penyakit kanker," kata Anung.

Adapun rangkaian kegiatan Hari Kanker Sedunia 2019 dilaksanakan mulai dari pusat hingga daerah. Kemkes telah mengirimkan surat edaran kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum agar berpartisipasi aktif dalam peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 dan mengkampanyekan ajakan untuk mengendalikan penyakit kanker.

Di pusat, rangkaian kegiatan peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 dilaksanakan dengan melibatkan Komite Penanggulangan Kanker Nasional dan organisasi penyintas kanker. Di antaranya, deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim, serta penyebaran media komunikasi dan infomasi kepada masyarakat. Diharapkan melalui peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 dapat menjadi sarana dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kanker.



Sumber: Suara Pembaruan