Sistem 2D Barcode BPOM Permudah Identifikasi Produk Palsu

Sistem 2D Barcode BPOM Permudah Identifikasi Produk Palsu
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia(BPOM RI)Penny K Lukito Jakarta,Senin Jakarta. ( Foto: ANTARA FOTO / Hafidz Mubarak )
Dina Manafe / IDS Senin, 11 Februari 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tantangan globalisasi serta luasnya cakupan wilayah pengawasan di Indonesia dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pengawas obat dan makanan, mendorong BPOM untuk melakukan pengawasan berbasis digital agar lebih efektif dan efisien.

Salah satunya adalah menerapkan sistem 2D barcode pada kemasan setiap produk yang beredar di Indonesia. Alat ini dapat memudahkan dalam mengidentifikasi produk yang palsu sekaligus mengetahui status peredaran dari produsen hingga ke tangan konsumen. Masyarakat pun dapat ikut serta aktif dalam mengecek dan memverifikasi legalitas produk yang digunakannya.

Sistem tersebut diluncurkan Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito pada puncak peringatan HUT BPOM ke-18 yang diselenggarakan di area Car Free Day, halaman parkir Sarinah Jakarta, Minggu (10/2) pagi. Dikatakan, dengan hadirnya sistem 2D barcode, BPOM berusaha menjawab tantangan pengawasan yang terus berkembang dengan memanfaatkan teknologi dalam melakukan koordinasi dan melibatkan masyarakat.

Melalui gawai (gadget) dalam genggaman, konsumen lebih mudah melakukan identifikasi dan otentikasi produk dengan memindai 2D barcode untuk mengidentifikasi legalitas nomor izin edar produk. Pada metode otentikasi, konsumen dapat membedakan antara produk asli dengan produk yang diduga palsu.

Kode 2D barcode memuat identitas tertentu, misalnya nomor serial produk sebagai penanda keaslian produk. Identifikasi produk dengan 2D barcode diterapkan untuk obat bebas dan obat bebas terbatas, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan. Sedangkan otentikasi produk dengan 2D barcode diaplikasikan untuk obat keras, produk biologi, narkotik dan psikotropika, obat bebas dan obat bebas terbatas tertentu, dan pangan diet khusus.

Masyarakat juga dapat melaporkan hasil pemindaian 2D barcode melalui aplikasi Track and Trace BPOM menggunakan aplikasi BPOM mobile. “Adanya 2D barcode pada produk obat dan makanan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, karena membangun sistem di mana masyarakat turut terlibat dalam memutus rantai peredaran obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan,” jelas Penny.

Tujuan dari peraturan penerapan 2D barcode ini adalah untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan efisiensi pengawasan obat dan makanan yang beredar di masyarakat.

2D barcode adalah representasi grafis dari data digital dalam format dua dimensi berkapasitas decoding tinggi yang dapat dibaca oleh alat optik yang digunakan untuk identifikasi, penjejakan, dan pelacakan. Sistem ini dicetak pada kemasan dengan tinta warna hitam dengan dasar warna putih atau warna lain dan harus mampu dibaca oleh aplikasi Track and Trace BPOM.

Proses penerbitan 2D barcode sendiri terbagi menjadi dua, yaitu dengan melakukan permohonan langsung ke BPOM oleh pelaku usaha atau diterbitkan secara mandiri oleh pelaku usaha dengan mengisi form pada aplikasi Track and Trace. Kemudahan dalam akses aplikasi ini tentunya akan mempermudah para pelaku usaha untuk menerbitkan 2D barcode produk mereka dan tentunya cakupan pengawasan ini akan lebih luas karena bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

Sistem 2D barcode ini akan menyediakan pelayanan untuk masyarakat yang akan berpartisipasi langsung dalam pengawasan obat dan makanan.



Sumber: Suara Pembaruan