Kasus Gizi Buruk di Jambi Meningkat, 10 Orang Meninggal

Kasus Gizi Buruk di Jambi Meningkat, 10 Orang Meninggal
Ilustrasi penderita gizi buruk. ( Foto: Antara )
Radesman Saragih / FMB Rabu, 27 Februari 2019 | 10:49 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Kasus gizi buruk di Provinsi Jambi cenderung meningkat selama dua tahun terakhir. Kasus gizi buruk di daerah itu tahun lalu mencapai 92 kasus, enam kasus di antaranya meninggal. Sedangkan kasus gizi buruk di Jambi tahun 2017 sekitar 85 kasus dan empat kasus meninggal. Total kasus gizi buruk di daerah itu dua tahun terakhir mencapai 177 kasus dan 10 kasus meninggal.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Samsiran Halim didampingi Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Helfiyan Amnun di Jambi, Selasa (26/2/2019).

Menurut Samsiran Halim, peningkatan kasus gizi buruk di Provinsi Jambi tersebut banyak dipengaruhi kurangnya asupan makanan bergizi dan pemberian air susu ibu (ASI) terhadap anak-anak balita. Selain itu kasus gizi buruk di Jambi juga disebabkan kondisi anak yang mengalami sakit. Gizi buruk tersebut banyak dialami balita berusia 0 – 5 tahun.

Dikatakan, kasus gizi buruk di Provinsi Jambi paling banyak ditemukan di Kabupaten Muaro Jambi, yakni 21 kasus. Sedangkan kasus gizi buruk di Kabupaten Tebo, Sarolangun dan Merangin rata-rata belasan orang.

Kasus meninggal akibat gizi buruk di Tebo tahun lalu sebanyak tiga orang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Merangin dan Kota Sungai Penuh masing-masing satu orang. Sedangkan kasus meninggal akibat gizi buruk di Muarojambi tahun 2017 sebanyak tiga orang dan di Tebo satu orang.

“Hasil pemeriksaan di lapangan yang kami lakukan, anak-anak penderita gizi buruk sebagian besar kurang asupan makanan bergizi, ASI dan banyak yang sakit. Misalnya sakit tuberculosis, diare, penyakit kulit, cacat bawaan, down syndrome, sesak napas dan penyakit lain akibat pola asuh yang kurang baik,” katanya.

Untuk mengatasi kasus gizi buruk tersebut, lanjut Samsiran Halim, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi memberikan bantuan perbaikan gizi anak-anak. Setiap anak yang mengalami gizi buruk mendapatkan bantuan sebesar Rp 1,8 juta melalui APBD Provinsi Jambi dan APBN.

“Bantuan penanganan gizi buruk dari APBD diberikan kepada 20 orang balita dan bantuan APBN sebanyak 40 orang. Bantuan APBD diberikan dalam bentuk makanan bergizi selama 90 hari dan bantuan APBN untuk 18 orang selama 40 hari,” katanya.

“Selain itu, lanjut Samsiran, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi juga terus memberikan penyuluhan agar keluarga yang memiliki anak balita rutin melakukan penimbangan bayi di posyandu. Selain itu para ibu-ibu menyusui juga diimbau meningkatkan asupan gizi, sehingga pemberian ASI kepada anak mereka semakin baik.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Batanghari, Elvi Yennie mengatakan, angka kematian ibu melahirkan dan bayi di daerahnya masih cukup tinggi. Jumlah balita yang meninggal di daerah itu tahun lalu menvapai 25 orang dan ibu melahirkan tiga orang.

Angka kematian bayi di daerah itu meningkat dibandingkan tahun 2017 dan angka kematian ibu berkurang. Angka kematian balita di Batanghari 2017 sebanyak 18 orang dan kematian ibu delapan orang.

“Penyebab kematian ibu dan bayi tersebut umumya kurangnya pemeriksaan kesehatan terhadap ibu-ibu hamil dan pola pengasuhan balita yang kurang baik,”katanya.



Sumber: Suara Pembaruan