Polusi Udara Tingkatkan Risiko Diabetes di Tiongkok

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Diabetes di Tiongkok
Cegah risiko diabetes
Happy Amanda Amalia / PYA Kamis, 14 Maret 2019 | 07:42 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com – Sebuah studi baru di Tiongkok menunjukkan, risiko diabetes berisiko meningkat jika terpapar oleh partikel-prtikel asap berbahaya dalam jangka panjang. Studi tersebut juga memberikan bukti-bukti yang menunjukkan keterkaitan antara polusi udara dan penyakit di Negeri Tirai Bambu itu.

Menurut sebuah studi Amerika Serikat (AS) yang diterbitkan pada 2017, Tiongkok sedang menghadapi permasalahan diabetes terbesar di dunia di mana sekitar 11% dari populasi yang menderita penyakit metabolik.

Selain itu, meningkatnya kesejahteraan juga telah membawa perubahan pola makan dan gaya hidup, bersamaan dengan krisis polusi udara yang diprediksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyebab lebih dari satu juta kematian prematur setiap tahun.

Risiko diabetes dilaporkan meningkat sekitar 16% setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik dalam paparan partikel Particulate Matter (PM) 2.5 jangka panjang. PM 2.5 adalah sebuah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Demikian temuan para peneliti dari Rumah Sakit Fuwai di Beijing, Tiongkok dan Emory University di AS dalam sebuah studi yang dipublikasikan secara online oleh Environment International, pekan lalu.

“Peningkatan kualitas udara yang berkelanjutan akan membantu mengurangi epidemi diabetes di Tiongkok,” ujar Lu Xiangfeng, salah satu penulis studi tersebut, kepada AFP via surat elektronik (email).

Para peneliti mengumpulkan data dari lebih 88.000 subjek di 15 provinsi, dan memperkirakan keterpaparannya terhadap PM2.5 berdasarkan data satelit yang diambil dari 2004 hingga 2015.

PM 2.5 sendiri termasuk racun seperti sulfat dan karbon hitam. Ukuran partikel udara yang sangat kecil itu dapat menembus jauh ke dalam paru-paru atau sistem kardiovaskular, dan telah dikaitkan dengan tingkat kanker paru-paru yang lebih tinggi, bronkitis kronis dan penyakit jantung.

Studi serupa yang dilakukan di Amerika Utara, Eropa, Hong Kong dan Taiwan juga telah mengaitkan polusi udara dengan diabetes. Menurut para peneliti, ini adalah studi terbesar dari isu serupa di Tiongkok daratan.

“Karena tingginya tingkat PM 2.5, pola paparan yang berbeda dan kerentanan populasi maka hasil dari negara-negara maju dengan tingkat PM 2.5 rendah tidak berlaku di Tiongkok,” kata Lu.

Timnya pun melakukan penyesuaian di berbagai faktor-faktor, seperti usia, indeks massa tubuh, status merokok, riwayat diabetes keluarga, dan tingkat aktivitas fisik terkait pekerjaan. Tetapi tidak secara langsung memasukkan faktor dalam kebiasaan berdiet dan jenis polutan lainnya.

Ho Kin Fai – profesor di Chinese University, Hong Kong yang mempelajari polutan udara dan tidak terlibat dalam studi tersebut – mengungkapkan kepada AFP bahwa hasil studi yang memperlihatkan polusi udara sebagai faktor dalam epidemi diabetes tidak bisa diabaikan.

“Namun, para ilmuwan masih harus menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bagaimana partikel PM 2.5 bekerja di tubuh manusia untuk meningkatkan risiko penyakit,” ujar dia.

Menurut Ho, mengingat studi tersebut tidak termasuk beberapa faktor lain di lingkungan yang mungkin belum dipertimbangkan maka dari itu “Kita perlu memiliki lebih banyak bukti dari mekanisme biologis untuk membuktikan itu benar.”

WHO melaporkan, penyakit diabetes adalah masalah kesehatan masyarakat yang berkembang di seluruh dunia, dan telah menewaskan sekitar 1,6 juta orang pada 2016. Bahkan masalah kesehatan ini meningkat lebih cepat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.



Sumber: AFP