Kemenkes Prioritaskan Penarikan Stavudine

Kemenkes Prioritaskan Penarikan Stavudine
Penggunaan Stavudine untuk penderita HIV-AIDS kini dilaranga karena beracun dan memiliki banyak efek samping yang membahayakan.
Sabtu, 16 Juni 2012 | 17:47 WIB
Berencana menggantinya dengan ARV generasi baru yang lebih aman.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui, masih banyak obat Antiretroviral jenis  DT4 yang beredar, meski sudah dinyatakan mengandung racun dan ditarik  dari peredaran.

"Tidak bisa kita pungkiri, Stavudine (merek dagang Dt4) masih banyak  stok-nya, makanya masih ada saja yang meresepkan meskipun sudah tidak  direkomendasikan," ujar Direktur Penyakit Menular Langsung Kemenkes, M Subuh.

Ia mengatakan pemerintah menyadari belum semua dokter mengetahui, bahwa Stavudine sudah tidak direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), karena efek sampingnya yang berat bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Indonesia AIDS Coalition sebelumnya mempertanyakan kinerja pemerintah yang dianggap gagal mensosialisasikan bahaya Stavudine. Sehingga masih banyak Orang dengan HIV-AIDS yang masih diresepkan ARV jenis Stavudine.

Subuh mengakui, bahwa Stavudine memang memiliki banyak efek samping serius, karena saat obat ini diciptakan, teknologi yang dimiliki belum terlalu canggih.

"Bagaimanapun juga Stavudine sudah banyak berjasa menyelamatkan nyawa manusia," katanya.

Subuh mengatakan bahwa pemerintah memang sudah berencana mengganti Stavudine dengan ARV generasi baru yang lebih aman.

"Masalahnya adalah tadinya kita belum punya pengganti Menkes. Padahal untuk pembelian skala besar kita harus meminta persetujuan Menkes,"  ujarnya.

Subuh mengatakan bahwa Kemenkes akan mempriotitaskan penarikan Stavudine secara perlahan dan menggantinya dengan obat baru. “Semua butuh waktu, harap bersabar," tutupnya.