Waspadai Tuli Bawaan Sejak Lahir

Waspadai Tuli Bawaan Sejak Lahir
Dokter spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) memeriksa telinga anak saat program kesehatan telinga Millenial Road Safety Festival Polres Lhokseumawe, di Lhokseumawe, Aceh, Minggu (10/3/2019). Pemeriksaan THT gratis bagi masyarakat itu bertujuan menjaga kesehatan telinga, mencegah gangguan pendengaran terutama saat berkendaraan. ( Foto: ANTARA/Rahmad / ANTARA/Rahmad )
Dina Manafe / IDS Sabtu, 23 Maret 2019 | 12:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gangguan pendengaran atau ketulian tidak hanya disebabkan oleh lingkungan dan gaya hidup. Ternyata sejak lahir pun seorang bayi sudah terancam mengalami gangguan pendengaran, yang dikenal dengan tuli kongenital.

Wakil Ketua Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), dr. Hably Warganegara, mengatakan, tuli kongenital rentan diderita bayi sejak lahir baik itu tuli sebagian atau tuli secara total. Ketulian ini disebabkan riwayat saat kehamilan dan persalinan maupun infeksi.

Yang mengkhawatirkan dari tuli bawaan ini adalah tidak menunjukkan gejala khas, sehingga sulit terdeteksi sejak awal. Umumnya ditandai dengan anak tidak bisa bicara sesuai usianya. Namun, ini kurang disadari dan tidak sedikit orang tua yang mengabaikannya.

Padahal jika tidak ditolong sejak awal, gangguan pendengaran ini bisa berakibat lebih fatal. Hably mengatakan, kemungkinan besar terjadi gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial. Dampaknya tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi mengganggu tumbuh kembang dan kualitas hidup anak, seperti perkembangan kecerdasan dan prestasi di sekolah.

“Gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial itu akan mengakibatkan terjadinya gangguan proses bicara, gangguan perkembangan kemampuan berbahasa, gangguan komunikasi, gangguan proses belajar dan perkembangan kepandaian,” kata Hably pada temu media dalam rangka peringatan Hari Pendengaran Sedunia di Kantor Kementerian Kesehatan (Kemkes), Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Menurut Hably, supaya tuli kongenital ini tidak berkembang menjadi lebih parah, maka harus dilakukan deteksi dini. Yang perlu diketahui bidan persalinan dan orang tua adalah cara mendeteksi pendengaran bayi secara sederhana. Bayi memang belum bisa berbicara, namun dia bisa menunjukkan refleks jika mendengar suara keras.

Cara observasi bayi terhadap suara dapat dilihat dari refleks bayi ketika mendengar suara keras atau disebut refleks moro. Refleks moro ditandai dengan apabila bayi tidak memakai bedong, tangannya seperti mau memeluk dan kaget. Jika melihat gejala seperti ini sudah harus dicurigai ada masalah dengan pendengaran. Tanda-tanda lainnya, berupa auropalpebral atau mengejapkan mata, grimacing atau mengerutkan wajah, bernapas lebih cepat, dan ritme jantung bertambah cepat. Bahkan anak akan berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat.

“Jangan dites di depan bayi tapi di belakang bayi. Biasanya kalau bayi mendengar klakson atau tepuk tangan dari belakangnya, bayi biasanya menunjukkan refleks. Nah, kalau refleksnya tidak ada, segerakan kontrol ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa,” kata Hably.

Gangguan pendengaran masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dikarenanya minimnya kesadaran dan fasilitas penanganan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemkes tahun 2013, sebanyak 2,6% penduduk berusia di atas 5 tahun menderita gangguan pendengaran. Dari jumlah itu, 0,09% di antaranya menderita ketulian, dan 18,8% serumen (kotoran telinga).



Sumber: Suara Pembaruan