Menkes: Rokok Terlalu Murah, Konsumsi Makin Tinggi

Menkes: Rokok Terlalu Murah, Konsumsi Makin Tinggi
Kampanye Bahaya Rokok terhadap Anak-anak ( Foto: Istimewa )
Dina Manafe / IDS Jumat, 22 Maret 2019 | 12:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek menyayangkan harga rokok di Indonesia yang terlampau murah. Hal ini turut memicu tingginya konsumsi rokok di Indonesia terutama di kalangan anak dan remaja.

Menurut Menkes, harga rokok yang sangat murah memudahkan akses anak dan remaja untuk membelinya dengan uang jajan mereka. Ditambah lagi, banyak rokok yang dijual ketengan di warung kopi bahkan di minimarket. Inilah yang menyebab konsumsi rokok di kalangan remaja kini makin tinggi, bahkan pada usia yang makin muda.

Faktanya, hampir 75,7% perokok memulai merokok sebelum usia 19 tahun. Sejak 2013 prevalensi merokok pada remaja (10-18 tahun) terus meningkat, yaitu 7,2% menjadi 8,8% (Sirkesnas 2016) dan 9,1% (Riskesdas 2018).

Menurut Menkes, lewat harga rokok yang sangat murah industri rokok memang sengaja untuk mengikat pelanggan tetap sejak anak-anak sampai tua. Ditambah lagi dengan iklan rokok yang sangat masif menjerumuskan anak dan remaja dalam adiksi nikotin. Industri makin kreatif dengan mencantumkan harga termurah dalam iklan rokok, misalnya Rp 2,500 per batang, yang mempengaruhi pikiran anak bahwa uang jajannya yang sebesar Rp10.000 cukup untuk membeli rokok. Dengan kondisi ini, kata Menkes, industri rokok lah satu-satunya pihak yang paling diuntungkan.

“Kenapa anak muda sengaja didorong untuk merokok? Ini kok sengaja kita diamkan. Dari anak-anak sampai tua langganan rokok, mereka adiksi selama puluhan tahun. Keuntungan pabrik rokok luar biasa. Yang mereka pikirkan hanya bisnis,” kata Menkes di sela-sela pertemuan ribuan remaja dari seluruh negara di kawasan Asia Tenggara dalam ajang Youth Town Hall, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Acara yang dihadiri perwakilan dari 11 negara ini membahas isu-isu kesehatan yang dihadapi anak muda saat ini, termasuk persoalan konsumsi rokok yang tinggi di kalangan remaja.

Menurut Menkes, merokok sejak anak-anak sama artinya investasi penyakit untuk masa depan. Rokok erat kaitannya dengan berbagai penyakit tidak menular, seperti jantung, strok, diabetes melitus, dan lain-lain. Persoalan saat ini, kata Menkes, dampak kesehatan ini selalu tidak digubris oleh perokok sendiri maupun para pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Menkes, dampak akibat rokok baru muncul setelah puluhan tahun. Artinya ketika seorang anak sudah mulai merokok di usia 9 tahun, maka dampak buruknya baru dirasakan setelah dewasa. Namun, ini kurang disadari masyarakat. Dari sisi kesehatan, kata Menkes, diharapkan masyarakat Indonesia tetap produktif sampai usia tua.

Data Balitbangkes Kemkes menunjukkan, usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat sampai saat ini 71,4 tahun. Akan tetapi, masa sehatnya hanya sampai usia 62 tahun. Artinya 8-9 tahun sisa usianya dihabiskan dengan sakit-sakitan akibat penyakit tidak menular dan katastropik, seperti jantung dan strok.

Pemerintah, kata Menkes, punya program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), yang bertujuan mengedukasi masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dalam kesehariannya. Salah satunya adalah berhenti merokok bagi yang sudah adiksi, dan tidak coba-coba merokok bagi yang belum. Sayangnya, kata Menkes, Germas ini belum didukung sepenuhnya oleh sektor lain di luar kesehatan.

“Saya minta kementerian lain harus saling dukung. Tidak mungkin kami teriak-teriak sendiri. Misalnya, Kemdikbud untuk masifkan informasi dan edukasi di sekolah-sekolah. Kemudian Kementerian PPPA terkait parenting (pengasuhan orang tua) sangat penting di sini,” kata Menkes.

Indonesia sudah memiliki regulasi nasional, yaitu UU 36/2009 dan turunannya Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang intinya menyebutkan rokok adalah zat adiktif yang harus dikendalikan konsumsinya. PP secara tegas mengatur tidak boleh menjual rokok pada anak di bawah 18 tahun, tidak dijual ketengan, tidak merokok di fasilitas publik, dan lain-lain. Namun, kata Menkes, regulasi ini tidak jalan. Implementasinya di lapangan sangat lemah.



Sumber: Suara Pembaruan