Winning Meal Project

Cara Ajinomoto Dongkrak Prestasi Atlet Indonesia

Cara Ajinomoto Dongkrak Prestasi Atlet Indonesia
Ajinomoto menyelenggarakan program Winning Meal Project untuk mendukung asupan gizi para atlet Indonesia. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Ajinomoto )
Feriawan Hidayat / FER Sabtu, 13 April 2019 | 17:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Asupan gizi menjadi hal mendasar yang harus diperhatikan dalam menopang prestasi para atlet di dunia olahraga internasional berprestasi. Di negara maju, gizi para atlet sudah diperhatikan bertahun-tahun sebelum mereka bertanding.

Ahli gizi klinis di bidang olahraga, Emilia E Achmadi MS RDN, mengatakan, gizi menjadi bagian fundamental yang wajib diperhatikan.

"Malah, di Tiongkok, Amerika, dan Jepang, gizi para atlet dimulai sejak mereka berusia 6 tahun (usia sekolah dasar yang dijadikan kurikulum pendidikan)," kata Emilia, dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (13/4/2019).

Kick Off Program Winning Meal Project untuk mendukung asupan gizi para atlet Indonesia.

Baca Juga: Ajinomoto Jadi Sponsor Resmi SEA Games ke-30

Sehingga, lanjut Emilia, ketika si atlet tersebut beranjak remaja, mereka sudah siap bertanding. "Di beberapa cabang olahraga, persiapan gizi khusus sport performance sesuai dengan disiplin atau cabang olahraga dilakukan delapan tahun sebelum si atlet bertarung di arena,” sambung Emilia.

Emilia mengakui, kondisi ini belum diterapkan di Indonesia secara benar dan konsisten dengan sistem formulasi, produksi, monitoring dan evaluasi secara profesional. Hal inilah yang membuat ia tergerak ketika diajak dalam program “Winning Meal Project” yang digagas oleh Ajinomoto Indonesia. Emilia mengaku tertarik dengan program ini karena sesuai dengan idealismenya sebagai ahli gizi.

"Karena menurut saya, peran private sector dibutuhkan untuk peningkatan kualitas dari atlet nasional," tutur Emilia.

Emilia menambahkan, melalui program ini ia fokus memperhatikan dan menyiapkan asupan gizi atlet renang I Gede Siman Sudarwata. Siman yang merupakan pria asal Bali ini, telah pernah menyabet empat medali emas di ajang SEA Games 2011 di Palembang.

"Banyak masyarakat yang belum paham, bahwa asupan gizi para atlet tidak bisa disamakan dengan asupan orang rata-rata. Bahan bakar mobil balap tidak sama dengan bahan bakar mobil biasa bahkan lebih spesifik lagi tergantung mobil balap jenis apa. Para atlet mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, beban latihan yang tak sama, dan histori cedera yang berbeda pula, tentu hal ini akan memengaruhi dengan asupan gizi yang dibutuhkan setiap atlet," ujar Emilia.

Melalui 'Winning Meal Project' Emilia menyusun asupan gizi untuk Siman sesuai dengan kondisi fisik, pengukuran anthropometric, dan periodisasi latihan dengan peak performance yang menjadi goal. Makanan sehari-hari Siman sebelum dan sesudah latihan akan disiapkan secara detail.

"Gizi sebelum dan sesudah latihan akan sangat berbeda. Misalnya, di 45 menit setelah latihan berat para atlet membutuhkan gizi khusus untuk memaksimalkan recovery process menuju sesi latihan berikut dan mencegah cedera, karena di saat itulah harus ada asupan untuk mengembalikan dan memperbaiki bagian tubuh yang rusak. Bila hal ini tidak dilakukan, maka fisik si atlet akan cepat menurun," jelas Emilia.

Makanan sehari-hari Siman sebelum dan sesudah latihan akan disiapkan secara detail. Contohnya, Siman telah melakukan pencapaian rekor nasional dari 50 meter gaya punggung, dengan waktu 25.01 detik. "Patokan itulah yang akan menjadi acuan Winning Meal Project (WMP) ke depannya," tandas Emilia.

Program 'Winning Meal Project' merupakan program adopsi dari Ajinomoto Co Inc di Jepang yang bernama 'Victory Project'. Di sana, sejak 2003 para atlet Jepang diperhatikan asupan gizinya. Kesuksesan 'Victory Project' di Jepang, salah satunya adalah dengan penyediaan menu atau meal plan yang proper untuk para atlet.



Sumber: BeritaSatu.com