Menkes: KPPS Meninggal karena Kelelahan

Menkes: KPPS Meninggal karena Kelelahan
Nila F Moeloek. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / WBP Rabu, 24 April 2019 | 17:34 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan, Nila Moeloek mengatakan, kemampuan tubuh manusia tidak mungkin bekerja selama 24 jam tanpa istirahat. Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal pada saat rekapitulasi hasil pemilu 2019 di sejumlah daerah sebagiannya dikarenakan kelelahan.

“Secara medis (meninggalnya-red) karena kelelahan. Harusnya diperhatikan, tidak mungkin kan kita bekerja 24 jam,” kata Menkes usai melihat langsung proses produksi alat kesehatan rapid test di Pabrik Rapid Test PT Kimia Farma, Denpasar, Bali, Selasa (23/4/2019).

Menurut Menkes, selain dalam keadaan capek dan stres dengan pekerjaannya merekapitulasi hasil pemilu, para korban meninggal bisa jadi karena mengidap penyakit berat sebelumnya. Misalnya hipertensi, akan lebih berisiko terjadi kondisi fatal jika bekerja 24 jam tanpa istirahat dengan beban kerja berat. “Misalnya hipertensi, mungkin tidak bawa obat, lalu beberapa jam lelah capek dan stres. Apalagi tidurnya tidak disediakan kasur kemudian bisa saja tensinya naik,” kata Nila Moeloek.

Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) per Selasa (23/4), jumlah anggota KPPS yang meninggal 119 orang, dan 548 dilaporkan sakit. Sebagian dari mereka dilaporkan meninggal karena kelelahan.

Menkes pun telah memerintahkan seluruh dinas kesehatan (dinkes) untuk melakukan pemeriksaan dan memastikan kesehatan semua KPPS terjaga. "Kami sudah bersurat ke seluruh (dinas kesehatan-red), sudah bergerak. Semua KPPS dijaga kesehatannya sekarang," kata Nila Moeloek.

Dihubungi terpisah, Rabu (24/4) sore ini, dokter penyakit dalam RSCM/FKUI, dr Zubairi Djoerban, mengatakan, orang yang sehat sekali pun ketika bekerja melampaui limitasi kemampuan tubuhnya akan berdampak buruk. Ditambah lagi jika memiliki faktor risiko, seperti perokok berat, darah tinggi, dan diabates. “Orang yang sehat banget, kemudian meninggal mendadak itu sering terjadi. Misalnya saat lari maraton di Amerika atau Inggris hampir ada satu yang meninggal padalah dia olahrawagan. Itu karena melampaui limit kemampuan orang itu,” kata dr Zubairi Djoerban.

Menurut dr Zubairi Djoerban, harus diteliti apakah anggota KPPS yang meninggal akibat kelelahan tersebut memiliki faktor risiko, seperti perokok, darah tinggi, diabates, obesitas, dan berapa usianya. Mereka yang memiliki faktor risiko tersebut tampak sehat dari luar, tetapi sebetulnya limitasi kemampuan tubuhnya lebih rendah. Misalnya penderita obesitas tidak hanya berisio terkena serangan jantung dan stroke, tetapi jua limitasi kemampuannya untuk bekerja lembur lebih rendah dibanding mereka yang tidak memiliki faktor risiko tersebut.

“Tidak mungkin juga orang sakit dipekerjakan sebagai anggota KPPS, pastinya mereka terlihat sehat tadinya. Bisa jadi mereka memiliki faktor risiko tersebut, kemudian kerja lembur, jarang tidur, dan kelelahan,” kata dr Zubairi Djoerban.

Menurut dr Zubairi Djoerban, perlu diteliti mengapa beberapa orang dengan beban kerja yang sama meninggal dalam waktu berdekatan. Ini penting untuk mencegah kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang.



Sumber: Suara Pembaruan