Indonesia-Inggris Kolaborasi Riset Atasi Penyakit Menular

Indonesia-Inggris Kolaborasi Riset Atasi Penyakit Menular
Mohamad Nasir. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / YUD Senin, 13 Mei 2019 | 15:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia dan Inggris siap menjalin kolaborasi riset melalui enam riset mengatasi penyakit menular selama tiga tahun ke depan dengan nilai riset mencapai Rp 37 miliar dengan rincian Rp 32 miliar dana riset dari Inggris dan Rp 5 miliar dari Indonesia.

Kolaborasi riset ini dilakukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bersama Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, proses pemilihan enam penelitian ini terbuka, transparan dan kompetitif. Proposal yang masuk sebanyak 22, lalu seleksi awal tersaring 18 dan seleksi akhir tim pengkaji Indonesia-Inggris ada enam proposal riset.

"Pendanaan riset ini bertujuan menghasilkan terobosan dalam bidang penyakit menular (infectious diseases)," kata Menristekdikti di sela-sela peluncuran kerja sama riset Indonesia-Inggris di Jakarta, Senin (13/5.2019).

Hasil kolaborasi ini akan meningkatkan ketahanan dan kesiapan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang mematikan, termasuk melalui intervensi kebijakan maupun pengembangan teknologi farmasi dan inovasi alat medis.

Nasir pun berharap, kolaborasi riset ini bisa masuk ke arah komersialisasi atau masuk ke dunia industri. Menurutnya, riset tidak cukup hanya berhenti di publikasi ilmiah, prototipe saja. Hasil riset perlu diproduksi massal sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan meningkatkan perekonomian.

Enam riset tersebut antara lain Cathelicidins as novel therapeutic antivirals for dengue infection. Riset ini bertujuan menguji molekul cathelicidins yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh manusia, apakah molekul ini dapat dimodifikasi untuk memerangi demam berdarah. Penelitian ini melibatkan, peneliti utama dari Indonesia adalah Dr Anom Bowolaksono dari Universitas Indonesia dan dari Inggris Dr Peter Barlow dari Edinburgh Napier University.

Pathogen exchange at the human wildlife interface - a comprehensive molecular study on vector-borne disease in rural Sulawesi. Riset ini bertujuan memahami peran interaksi binatang dan manusia dalam penyebaran penyakit menular seperti malaria. Peneliti utama dari Indonesia adalah Dr Isra Wahid dari Universitas Hasanuddin dan dari Inggris adalah Dr Janet Cox-Singh dari University of St Andrews.

Feasibility, acceptability and impact of an innovative, tailored HIV prevention intervention for MSM at high-risk of HIV in Indonesia. Riset ini bertujuan menyelidiki pencegahan HIV yang inovatif, baik melalui pelayanan deteksi yang memadai, juga penanganan yang cepat bagi masyarakat yang sudah terkena dampak HIV. Peneliti utama dari Indonesia adalah Professor Irwanto dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan dari Inggris adalah Dr Keerti Gedela from University of Chelsea and Westminster Hospital NHS Foundation Trust.

Using host-responses and pathogen genomics to improve diagnostics for tuberculosis in Bandung, Indonesia. Untuk mengontrol tuberkulosis, riset ini bertujuan mengidentifikasi pasien tuberkulosis sejak dini dan meningkatkan pengawasan pada masa pengobatan. Kapasitas analisa akan ditingkatkan, dan pembangunan teknologi tepat akan dikembangkan. Peneliti utama dari Indonesia adalah Profesor Ida Parwati dari Universitas Padjadjaran dan dari Inggris adalah Professor Taane Clark dari the London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Improving diagnosis of brain infections in Indonesia using novel and established molecular diagnostic tools. Riset ini bertujuan menyelidiki pemakaian peralatan molekuler yang dapat meningkatkan diagnosa penderita infeksi otak di Indonesia. Peneliti utama dari Indonesia adalah Professor Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada dan dari Inggris adalah Dr Michael Griffiths dari University of Liverpool.

Point of care tests in the diagnosis of chronic and allergic aspergillosis. Diagnosis penyakit aspergillosis terbilang mahal dan memerlukan peralatan khusus. Riset ini bertujuan mengembangkan uji diagnosa yang lebih mudah dan terjangkau. Peneliti utama dari Indonesia adalah Dr Anna Rozaliyani dari Universitas Indonesia dan dari Inggris adalah Dr Chris Kosmidis dari University of Manchester.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste Moazzam Malik mengungkapkan, kolaborasi riset dan pendidikan tinggi sangat penting dilakukan. Riset yang dilakukan ini pun sangat penting karena menyangkut penyakit menular.

"Ancaman penyakit menular sangat tinggi di Indonesia dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat dan juga perekonomian nasional," ucapnya.

Melalui kerja sama yang erat, ilmuwan terbaik Inggris dan Indonesia berkontribusi mengurangi tingkat kerawanan penyakit menular.

Bidang sains dan riset di Inggris menempati posisi kedua dunia, 54 persen hasil penelitiannya masuk ke dalam kategori terbaik dunia. Sebanyak 38 persen peraih Nobel memilih untuk bersekolah di Inggris.

"Saya berharap riset-riset terpilih ini berguna bagi masyarakat Indonesia untuk hidup lebih lama, lebih sehat dan lebih makmur," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan