Benarkah Vape Lebih Aman dari Rokok? Ini Kata Pakar
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Benarkah Vape Lebih Aman dari Rokok? Ini Kata Pakar

Selasa, 14 Mei 2019 | 19:45 WIB
Oleh : Dina Manafe / HA

Jakarta, Beritasatu.com - Rokok elektrik makin digandrungi masyarakat khususnya kaum muda. Masifnnya kampanye bahwa rokok elektrik atau juga dikenal dengan vape ini dianggap lebih aman dibanding rokok konvensional mendorong para perokok beralih. Bahkan tak sedikit yang menganggap rokok elektrik ini sebagai solusi berhenti merokok. Benarkah demikian?

Dalam diskusi publik yang diselenggarakan Komnas Pengendalian Tembakau bertemakan “Rokok Elektrik, Ancaman atau Solusi” di Kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBI IDI), Selasa (14/5/209), para pakar kesehatan justru mengungkapkan fakta sebaliknya. Praktisi medis dari berbagai disiplin ilmu ini mengungkapkan rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional. Meskipun rokok elektrik memiliki kandungan tar yang rendah, tetapi mengandung bahan kimia lain yang justru jauh lebih mematikan.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Dr Sally Aman Nasution mengatakan rokok elektrik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis, sehingga memiliki risiko perubahan sel dan mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu, seperti kanker paru, mulut dan tenggorokan, gangguan di bidang pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis.

Senada dengannya, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr Agus Dwi Susanto mengungkapkan, berbagai penelitian menunjukkan dampak rokok elektrik pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan atau inflamasi, kerusakan epitel, kerusakan sel, menurunkan sistem imunitas lokal paru dan saluran napas. Rokok elektrik juga meningkatkan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema, dan risiko kanker paru.

“Beberapa penelitian di populasi juga menunjukkan bahwa rokok elektrik menyebabkan iritasi saluran napas, meningkatkan gejala pernapasan, risiko bronkitis, asma serta risiko penyakit bronkiolitis obliterans dan infeksi paru,” kata Agus.

Dr. Erlina Burhan dan dr Anna Rozaliyani dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) mengatakan, terdapat 7x1.011 zat radikal per-hirup rokok elektrik yang akan meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status imun yang mirip dengan rokok reguler.

Kandungan zat berbahaya dalam rokok elektrik antara lain nikotin, dapat mengubah ekspresi beberapa gen, salah satunya ICAM-4 yang dapat meningkatkan penempelan bakteri tuberkolosis atau TBC. Kondisi tersebut membuat perokok berisiko dua kali lipat untuk terinfeksi dan meninggal karena TBC dibandingkan bukan perokok.

Mengenai anggapan bahwa rokok elektrik dapat menjadi alat bantu berhenti merokok, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menolaknya. Menurut IAKMI, alih-alih berhenti merokok, berbagai penelitian di beberapa negara menunjukkan para perokok justru terjerat rokok elektrik dan rokok konvensional sebagai pengguna ganda (dual users).

Di Polandia, misalnya, dari 30% remaja 15-19 tahun yang mengonsumsi rokok elektrik tahun 2013-2014 ternyata sebanyak 72,4% di antaranya adalah pengguna ganda. Di Indonesia, studi UHAMKA pada remaja SMA di Jakarta tahun 2018 menemukan, dari 11,8% perokok elektrik sebanyak 51% di antaranya pengguna ganda.

Beredarnya penelitian tentang keamanan rokok elektrik terhadap kesehatan mulut dan gigi juga harus dipertanyakan. Sebab menurut drg. Didi Nugroho Santosa dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia menyebutkan, rokok elektrik ternyata tetap berpengaruh negatif pada sel mukosa mulut dan tidak terbukti bahwa rokok elektrik merupakan cara yg tepat untuk menghentikan kebiasaan merokok konvensional.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, peredaran rokok elektrik secara global saat ini tengah melambung. Peredarannya tersebar luas terutama di negara-negara berkembang dan di kalangan anak-anak dan remaja. Di Indonesia, hasil monitoring Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2018 lalu menemukan banyak anak-anak sekolah dasar mengonsumsi vape di sekolah.

Peminat rokok elektrik meningkat tajam yang diindikasikan dengan menjamurnya para penjual vape, baik di gerai-gerai maupun di toko online. Mereka mendapatkannya sangat mudah dan tidak ada regulasi apapun yang mengaturnya kecuali pengenaan cukai 57% yang justru melegalisasi produk yang belum jelas keamanannya ini.

WHO dalam konferensi WHO Framework Convention On Tobacco Control tahun 2014 lalu menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti yang menyatakan rokok elektrik dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Pahami Jenis dan Manfaat Air Minum Dalam Kemasan

Hidrasi atau pemenuhan kebutuhan cairan tubuh menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

KESEHATAN | 14 Mei 2019

Antisipasi Pandemi Global, Pemerintah Luncurkan Pelatihan Lintas Sektor

Koordinasi lintas sektor sangat dibutuhkan untuk pencegahan dan mitigasi resiko.

KESEHATAN | 14 Mei 2019

Antisipasi Cacar Monyet, Kemkes Tingkatkan Kewaspadaan

Kemkes sudah mengeluarkan surat edaran cegah tangkal masuknya virus monkeypox.

KESEHATAN | 14 Mei 2019

Ribuan Orang Ikuti Pengobatan Gratis di Borobudur

Ribuan orang mengikuti pengobatan gratis yang diselenggarakan Perwakilan Umat Buddha Indonesia dalam rangkaian Waisak Nasional 2563 BE/2019.

KESEHATAN | 14 Mei 2019

Indonesia-Inggris Kolaborasi Riset Atasi Penyakit Menular

Kolaborasi riset ini dilakukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris.

KESEHATAN | 13 Mei 2019

Fitur Sidik Jari Masih Sulitkan Pasien JKN-KIS

Dengan kondisi antrean panjang dalam proses pendaftaran di sejumlah RS, maka penggunaan sidik jari justru menyulitkan pasien terutama pasien lansia dan anak.

KESEHATAN | 13 Mei 2019

Fitur Sidik Jari Kurangi Repotnya Proses Administrasi BPJSK

Pelaksanaan sidik jari terlebih dahulu diterapkan untuk peserta hemodialisis. Sekarang diperluas untuk pasien rawat inap, rehabilitasi medik, mata dan jantung.

KESEHATAN | 13 Mei 2019

Kemkes Temukan 13 Penyakit Penyebab Meninggalnya Petugas KPPS

Kebanyakan korban meninggal pada usia 50-59 tahun

KESEHATAN | 12 Mei 2019

Senam Otak Bangkitkan Jiwa Muda Kalangan Lansia

Khasiat senam otak sudah dirasakan oleh ribuan lansia

KESEHATAN | 10 Mei 2019

Batalkah Puasa Kita Bila Disuntik?

Apakah suntik dapat membatalkan puasa?

KESEHATAN | 9 Mei 2019


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS