Paparan Cahaya LED Dapat Merusak Mata

Paparan Cahaya LED Dapat Merusak Mata
Ilustrasi lampu lED Osram
Happy Amanda Amalia / PYA Kamis, 16 Mei 2019 | 00:00 WIB

Maison-Alfort, Beritasatu.com – Pengawas kesehatan Pemerintah Prancis mengatakan, pancaran cahaya biru pada bola lampu jenis LED (Light Emitting Diode) dapat merusak retina mata dan mengganggu ritme tidur alami.

Temuan baru yang disampaikan pengawas pada pekan ini, memastikan kekhawatiran sebelumnya bahwa paparan cahaya LED yang tajam dan kuat merupakan photo-toxic yang dapat menyebabkan kehilangan permanen sel-sel retina mata dan berkurangnya ketajaman penglihatan.

Demikian peringatan yang disampaikan Badan untuk Makanan, Lingkungan, dan Kesehatan & Keselamatan Prancis atau Agency for Food, Environmental and Occupational Health & Safety (ANSES), dalam sebuah pernyataan.

Dalam laporan setebal 400 halaman, ANSES memberikan rekomendasi bahwa batas maksimum untuk paparan akut telah direvisi, bahkan jika batas-batas tersebut jarang dipenuhi di rumah-rumah atau lingkungan kerja.

Laporan ANSES juga menyebutkan perbedaan antara paparan akut cahaya LED intensitas tinggi, dan “paparan kronis” sampai ke sumber intensitas rendah.

Dalam kesimpulan ANSES: “Meskipun minim bahaya, tetapi paparan kronis sekalipun dapat mempercepat penuaan jaringan retina, berkontribusi terhadap penurunan ketajaman visual dan penyakit degeneratif tertentu seperti degenerasi makula terkait usia.”

Di sisi lain, teknologi LED yang disebut-sebut tahan lama, hemat energi, dan murah sudah banyak digunakan hingga separuh dari pasar penerangan umum dalam satu dekade, dan akan mencapai 60% pada akhir tahun depan. Demikian prediksi industri.

Bola lampu LED dianggap hemat karena hanya menggunakan seperlima dari listrik yang dibutuhkan untuk bola lampu pijar dengan kecerahan yang sebanding.

Tercatat, produsen bola lampu LED terkemuka di dunia adalah GE Lighting, Osram dan Philips.

Ada pun teknologi dasar untuk menghasilkan cahaya putih adalah dengan menggabungkan LED panjang gelombang pendek seperti sinar biru atau ultraviolet dengan lapisan fosfor kuning. Semakin putih atau “lebih dingin” cahaya maka semakin besar proporsi cahaya biru dalam spektrum.

Sekarang penggunaan LED banyak ditemukan pada penerangan di rumah-rumah, jalan-jalan, serta perkantoran dan industri.
LED juga semakin banyak ditemukan pada lampu-lampu utama mobil, senter, dan beberapa mainan.

“LED pada layar ponsel (telepon seluler), tablet dan laptop tidak menimbulkan risiko kerusakan mata karena luminositasnya sangat rendah dibandingkan dengan jenis pencahayaan lainnya,” ujar Francine Behar-Cohen, dokter spesialis mata dan kepala kelompok ahli yang melakukan tinjauan, kepada wartawan.

Ganggu Ritme Sirkadian
Tetapi ANSES memperingatkan, perangkat-perangkat yang dapat menyala kembali (back-lit) – terutama ketika digunakan di malam hari atau di tempat gelap – dapat mengganggu ritme biologis, dan pola tidur.

Laporan ANSES mencatat, hal itu dikarenakan lensa-lensa kristal pada mata mereka tidak sepenuhnya terbentuk. Golongan anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap gangguan seperti itu.

“Terganggunya ritme sirkadian tubuh (sebuah proses biologis berulang secara alami pada siklus 24 jam, red) juga diketahui memperburuk gangguan metabolisme seperti pada penderita diabetes, serta penyakit kardiovaskular dan beberapa bentuk kanker,” kata Dina Attia, seorang peneliti dan manajer proyek di ANSES.

Selain itu, laporan ANSES mengungkapkan pengaruh stroboskopik pada beberapa lampu LED – yang dipicu oleh fluktuasi kecil dalam arus listrik – dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan visual dan risiko kecelakaan yang lebih tinggi.

Dalam laporannya ANSES merekomendasikan pembelian lampu LED “putih hangat” untuk penerangan di rumah-rumah, kemudian membatasi terpapar sumber LED dengan konsentrasi tinggi cahaya biru, dan menghindari layar LED sebelum tidur.

ANSES juga menyampaikan, kalangan produsen bola lampu LED harus membatasi tingkat intensitas ketajaman cahaya lampu kendaraan, mengingat beberapa di antaranya terlalu terang. Pada akhirnya, ANSES pun meragukan meragukan efektivitas beberapa filter dan kacamata hitam yang dipasang anti-blue light.



Sumber: AFP