Uji Coba Intervensi Gizi Spesifik Mampu Turunkan Prevalensi Stunting

Uji Coba Intervensi Gizi Spesifik Mampu Turunkan Prevalensi Stunting
Damayanti R. Sjarif (kiri) yang juga berprofesi sebagai Dokter Anak Sub Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik Pada Anak melakukan pemeriksaan pada anak. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Jumat, 17 Mei 2019 | 23:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebuah penelitian uji coba intervensi gizi spesifik di Desa Bayumundu, Kabupaten Pandeglang Banten memberikan harapan baru dalam mengatasi prevalensi stunting pada anak usia di bawah dua tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dokter spesialis nutrisi anak dari RSCM yang dipimpin DR.Dr. Damayanti R. Sjarif, SpA.(K) ini berhasil menurunkan angka prevalensi stunting melalui pemantauan berat badan dan tinggi badan secara teratur di posyandu dan konseling nutrisi terutama dalam hal konsumsi protein hewani yang tersedia setempat setiap hari seperti, telur, ikan, ayam dan susu.

"Jika metode ini bisa diterapkan di daerah lain, maka ada peluang untuk mempercepat pencapaian target penurunan prevalens stunting pada anak Indonesia. Langkah yang paling tepat untuk mengatasi masalah stunting memang pencegahan, karena dampaknya yang permanen terhadap kognitif dan fisik anak," ujar Damayanti di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Damayanti R. Sjarif yang juga berprofesi sebagai Dokter Anak Sub Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik Pada Anak di RSCM itu menjelaskan, Windows of opportunity, pencegahan penurunan kognitif adalah 2 tahun pertama kehidupan. Pada masa ini, harus dipastikan nutrisi anak terpenuhi dengan baik dan pertumbuhan anak sesuai dengan usianya.

"Jika terdeteksi penurunan berat badan (weight faltering) harus segera ditangani secara medis untuk mencari penyebabnya dan solusinya, oleh sebab itu deteksi dini, diikuti dengan intervensi nutrisi sangat diperlukan," jelasnya.

Tim dokter spesialis anak dari RSCM merupakan peneliti yang ditunjuk oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk melakukan intervensi gizi spesifik pada 174 balita di Desa Bayumundu, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Banten. Daerah ini memiliki angka stunting sebesar 37,9 persen (berdasar data dan pantauan Posyandu). Pada hasil pemeriksaan pertama, terdapat 54 balita stunting (41,5 persen), dan 13 diantaranya baduta (26,5 persen).

"Dengan pemantauan rutin selama 6 bulan sejak Agustus 2018 termasuk konseling pemberian sumber protein hewani dari telur, ikan, ayam dan susu, dapat menurunkan 8,4 persen prevalensi stunting pada balita, dan 6,1 persen pada baduta," papar Damayanti.

Selain itu, ditemukan 6 baduta stunting disertai gizi kurang dan 11 baduta dengan kondisi weight faltering yang perlu dirujuk ke RSUD untuk mendapatkan PKMK (Pangan untuk Kondisi Medis Khusus). Hasilnya, laju pertumbuhan baduta stunting dan weight faltering berhasil dipercepat dan menyelamatkan mereka dari kondisi stunting.

Pemberian nasihat nutrisi saja tidak cukup, karena perlu deteksi dini stunting dengan pemantauan berat badan dan tinggi badan berkala oleh tenaga kesehatan. Kompetensi tenaga kesehatan ini perlu ditingkatkan melalui pelatihan yang melibatkan kader Posyandu, bidan, dan petugas gizi lapangan.

"Selain screening malnutrisi pada balita, diperlukan sistem perujukan ke dokter Puskesmas dan RSUD khusus stunting karena penyebab stunting antara lain adalah infeksi dan penyakit kronis lain," tambahnya.

Terkait hasil penelitian ini, Pemerhati Kebijakan Publik Agus Pambagio mengatakan dari hasil penelitian tim pimpinan Dr Damayanti bisa disimpulkan bahwa ternyata penanganan stunting tidak terlalu rumit dan tanpa harus membutuhkan strategi kebijakan yang berlebihan.

"Pemerintah cukup mewajibkan semua anak mendapatkan asupan ASI dan MPASI yang mengandung protein hewani yang cukup dan mudah didapat, seperti telur, ikan dan susu. Jangan lagi menggunakan makanan yang ‘aneh-aneh’, mahal dan membebani APBN,” jelas Agus.

Hasil uji coba di Pandeglang mengindikasikan bahwa dengan terobosan intervensi, angka prevalensi stunting dapat turun hingga 4.3 kali target penurunan pertahun dari WHO yaitu 3,9 persen per tahun.

"Terobosan ini mestinya dapat ditiru dan diaplikasikan di daerah-daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Jangan sampai, alih-alih bonus demografi, Indonesia akan mengalami tragedi demografi pada 2030 mendatang," tegas Agus.



Sumber: BeritaSatu.com