Konsistensi Standar Produksi Dorong Industri Suplemen Kesehatan

Konsistensi Standar Produksi Dorong Industri Suplemen Kesehatan
Senior Director & General Manager Herbalife Nutrition Indonesia, Andam Dewi, bersama Ahli Kesehatan Otak dan Penuaan dari University of California, Los Angeles (UCLA), Gary Small, di sela acara Wellness Tour Herbalife Nutrition 2018, di Jakarta, Selasa (30/10). ( Foto: Beritasatu Photo )
Indah Handayani / FER Senin, 20 Mei 2019 | 15:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia merupakan salah satu pasar strategis untuk industri kesehatan dan suplemen makanan dunia. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia pada 2021 diproyeksi mencapai 45 juta penduduk. Angka ini, diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 85 juta penduduk di 2022. Pada 2030, diperkirakan akan ada sekitar 145 juta penduduk kelas menengah di Indonesia.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi dan keuntungan demografi dengan meningkatnya masyarakat kelas menengah menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri kesehatan dan suplemen makanan di Indonesia.

Vice President, Quality Assurance and Control Herbalife Nutrition, Peter Chang, mengatakan, saat ini merupakan waktu dan kesempatan penting bagi perusahaan nutrisi di seluruh dunia karena semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menjalankan hidup sehat sebagai prioritas.

"Ketika industri berkembang pesat, produsen harus bergegas untuk mengikuti laju permintaan produk nutrisi berkualitas. Peningkatan permintaan akan produk nutrisi berkualitas harus diikuti dengan usaha produsen untuk transparan dan konsisten guna menjaga kualitas dan keamanan produknya,” ujar Peter Chang, dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Senin (20/5/2019).

Untuk mencapai tujuan ini, lanjut Peter Chang, perusahaan harus mulai dengan sumber bahan-bahan baku berkualitas tinggi dan melalui tahapan produksi yang cermat dengan pengujian lanjutan dari setiap produk jadi.

"Selain itu, produsen harus memiliki tahapan proses, produk, laboratorium, serta ilmuwan yang disertifikasi dan diakreditasi oleh organisasi pihak ketiga independen, seperti Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) serta regulator pemerintah,” tegas Peter Chang.

Saat ini, pasar suplemen makanan kesehatan di Indonesia masih didominasi oleh produk impor dengan angka 80 persen produk suplemen makanan kesehatan yang dipasarkan di Indonesia merupakan produk impor.

Data dari Cekindo, salah satu perusahaan konsultan bisnis dunia menyatakan, Amerika Serikat (AS) merupakan negara asal dari produk-produk suplemen makanan kesehatan di Indonesia. Dari Rp 4,5 triliun (US$318 juta) pendapatan perusahaan suplemen makanan kesehatan di Indonesia, sebanyak Rp 3,5 triliun (US$250 juta) dikontribusi oleh produk-produk asal AS.

Senior Director and General Manager Herbalife Nutrition Indonesia, Andam Dewi, menambahkan, kepatuhan terhadap regulasi pemerintah merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan bisnis di industri suplemen makanan kesehatan di Indonesia.

Andam mengakui, pihaknya telah menanamkan jumlah besar investasi untuk memenuhi ketentuan dan persyaratan berdasar Undang-undang (UU) yang berlaku. Investasi tersebut dijalankan disemua lini produksi perusahaan seperti penanaman, pengolahan, pengemasan hingga di jalur distribusi yang melibatkan instrumen dan peralatan modern termasuk untuk pengujian DNA bahan baku.

“Singkatnya, perusahaan harus mulai mengadopsi filosofi bisnis berkelanjutan. Dengan kepatuhan terhadap regulasi dan diikuti dengan akreditasi ISO serta akreditasi dari lembaga-lembaga pihak ketiga yang kredibel, maka pelanggan dapat yakin bahwa produk dan fasilitas perusahaan nutrisi memenuhi standar internasional untuk kualitas, pengujian, dan keamanan produk,” tutup Andam.



Sumber: BeritaSatu.com