Kuota Haji Bertambah, Kemkes Perkuat Layanan Kesehatan untuk Jemaah

Kuota Haji Bertambah, Kemkes Perkuat Layanan Kesehatan untuk Jemaah
Antrean Jamaah calon haji sebelum masuk kedalam bus untuk diberangkatkan menuju Asrama Haji Embarkasi Bekasi di Gedung Dakwah, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 16 Juli 2018 malam. Jemaah calon haji dari Kota Tasikmalaya yang berangkat tahun ini sebanyak 762 calon jemaah haji dibagi menjadi lima kali pemberangkatan atau lima kloter. ( Foto: Antara / Adeng Bustomi )
Dina Manafe / IDS Kamis, 13 Juni 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jumlah kuota haji Indonesia tahun ini meningkat sebanyak 10.000, sehingga totalnya menjadi 231.000 jemaah. Penambahan kuota ini membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia.

Dari jumlah ini, sekitar 60% sampai 70% di antaranya berisiko tinggi menderita masalah kesehatan. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemkes) memperkuat pelayanan kesehatan untuk jemaah haji mulai dari pemeriksaan sebelum keberangkatan, pendampingan selama penerbangan, saat menjalankan ibadan haji, hingga kembali ke Tanah Air.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek mengatakan, tantangan pelayanan kesehatan haji setiap tahun terus berubah dan bertambah seiring meningkatnya jumlah jemaah haji risiko tinggi, beragamnya latar belakang pendidikan, etnis dan sosial budaya serta kondisi fisik, termasuk pada saat penerbangan menuju Arab Saudi.

Belum lagi ditambah kondisi lingkungan di Arab Saudi yang berbeda dengan kondisi di Tanah Air seperti perbedaan musim, kelembaban udara yang rendah, perbedaan lingkungan sosial budaya, keterbatasan waktu perjalanan ibadah haji dan kepadatan populasi jemaah haji pada saat wukuf di Arafah maupun melontar jumrah di Mina, dapat berdampak terhadap kesehatan jemaah haji.

"Jemaah berisiko tinggi karena usia makin tua, dan sebagian besar dari mereka sudah menderita penyakit tidak menular, seperti jantung, strok, paru, hipertensi, diabetes, dan lain-lain. Nah, kami sudah melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan mereka sehat waktu berangkat," kata Menkes di Jakarta, Rabu (12/6).

Selain pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan, Kemkes juga fokus memberikan pendampingan kepada jemaah selama penerbangan dengan menyiagakan tenaga dokter dan perawat. Sebab, kata Menkes, jemaah haji harus menempuh perjalanan menggunakan pesawat selama 9 hingga 12 jam dari embarkasi sampai ke Madinah atau Jeddah. Perjalanan yang lama di pesawat juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan jemaah karena beberapa penyakit dapat timbul dan memperberat keadaan jemaah yang mempunyai penyakit sebelumnya. Edukasi kepada jemaah tentang risiko tinggi kesehatan selama penerbangan pun terus ditingkatkan.

"Selama penerbangan, kondisi lingkungan udara berbeda dengan kondisi lingkungan daratan. Bertambahnya ketinggian dan berkurangnya kadar oksigen dapat menyebabkan sakit atau rasa tidak nyaman pada tubuh jemaah selama perjalanan, seperti gangguan pernapasan, deep vein thrombosis, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara,” kata Menkes.

Data Kemkes 2018 menunjukkan, sebanyak 2.366 jemaah haji mengalami sakit saat tiba di Arab Saudi dan beberapa di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi. Demikian pula pada masa pemulangan, faktor kondisi lingkungan di pesawat menjadi pertimbangan pemulangan jemaah haji sakit. Hal ini terlihat pada tahun 2018 sebanyak 54 jemaah haji masih tertinggal di Rumah Sakit Arab Saudi seusai operasional karena kondisi kesehatan yang belum laik terbang.



Sumber: Suara Pembaruan