Risiko Gangguan Jiwa Intai Jemaah Haji

Risiko Gangguan Jiwa Intai Jemaah Haji
Jemaah haji menggunakan payung karena cuaca terik di Arab Saudi. ( Foto: AFP )
Dina Manafe / IDS Kamis, 13 Juni 2019 | 11:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Jumlah kuota haji Indonesia tahun ini meningkat sebanyak 10.000, sehingga totalnya menjadi 231.000 jemaah. Dari jumlah ini, sekitar 60% sampai 70% di antaranya berisiko tinggi menderita masalah kesehatan.

Selain penyakit tidak menular, menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek, risiko gangguan jiwa juga kerap terjadi pada jemaah haji.

"Tahun lalu terdapat sekitar 47 jemaah yang menderita gangguan jiwa berat dan mendapat perawatan intensif. Banyak faktor yang memicu jemaah mengalami gangguan jiwa, seperti kondisi sosial, perubahan lingkungan, tekanan psikologis, dehidrasi, dan lain-lain," kata Menkes di Jakarta, Rabu (12/6).

Sementara untuk kasus heat stroke (kondisi kepanasan ekstrem pada tubuh) juga berisiko terjadi pada jemaah akibat suhu ekstrem yang terjadi pada bulan Juni ini. Mengantisipasi heat stroke, pemerintah Indonesia sudah melakukan antisipasi, di antaranya menyediakan semprotan air, sandal, dan payung untuk jemaah.

Menkes berharap pelayanan kesehatan penerbangan haji tahun ini dapat berjalan lebih baik. Para petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) diharapkan akan mampu untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal baik sebelum keberangkatan, selama penerbangan, saat di Arab maupun setelah kembali ke Tanah Air.

Saat ini jumlah TKHI sebanyak 1.521 orang dengan 306 Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan. Dengan adanya rencana penambahan 10.000 kuota haji, maka dibutuhkan penambahan tenaga kesehatan. Mereka diharapkan dapat melakukan sosialisasi dalam bentuk promotif dan preventif kepada jemaah di tingkat kabupaten/kota pada tahap awal dan selama masa tunggu. Diharapkan jemaah mendapatkan konseling kesehatan untuk mengendalikan faktor risiko kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan di tanah air maupun di tanah suci.

Secara terpisah, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemkes, dr Eka Yusuf Singka mengatakan, tren jemaah yang menderita sakit dan kematian saat menjalankan ibadah menurun lebih dari 50% di tahun 2018 dibanding 2017 dan tahun-tahun sebelumnya.

"Memang trennya menurun karena kita persiapan jauh lebih matang, kesadaran jemaah juga makin baik, Kementerian Agama mendukung, dan pelayanan dari petugas kesehatan makin berkualitas," kata Yusuf.



Sumber: Suara Pembaruan