Unit Transfusi Darah di Indonesia Wajib Akreditasi

Unit Transfusi Darah di Indonesia Wajib Akreditasi
Petugas unit transfusi darah Palang Merah Indonesia (PMI) juga menambah stok darah trombosit untuk mengantisipasi kebutuhan darah yang terus meningkat karena maraknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Petugas PMI memperlihatkan kantung berisi darah trombosit di PMI Kota Kediri, Jawa Timur, 22 Januari 2019. PMI daerah setempat menambah produksi darah trombosit hingga sepuluh kantung per hari dari normalnya lima kantung per hari karena permintaan yang meningkat akibat wabah demam berdarah dengue. ( Foto: Antara / Prasetia Fauzani )
Dina Manafe / FER Senin, 24 Juni 2019 | 22:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Transfusi darah telah menyelamatkan nyawa jutaan orang setiap tahunnya. Selain ketersediaan, keamanan dan mutu darah juga merupakan hal penting, mengingat darah bisa menjadi media penularan penyakit, seperti HIV/AIDS, hepatitis B, hepatitis A dan sifilis.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan mewajibkan akreditasi bagi seluruh Unit Transfusi Darah (UTD) yang ada. Jumlah UTD di Indonesia saat ini sekitar 420 unit, terdiri dari 200 unit milik pemerintah baik pusat maupun daerah dan 200 lagi milik Palang Merah Indonesia (PMI).

Pelaksana harian (Plh) Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kemkes, Farichah Hamun, mengatakan, UTD yang ada saat ini sudah bekerja sesuai standar yang ditetapkan pemerintah yang diatur dalam Permenkes 91/2015 tentang standar pelayanan transfusi darah, dan Permenkes Nomor 83/2014 tentang UTD, Bank Darah Rumah Sakit (BDRS), dan jejaring pelayanan transfusi darah. Namun, selama ini belum ada lembaga independen yang mengevaluasi dan memastikan UTD tersebut patuh melaksanakan standar yang diamanatkan dalam dua aturan tersebut.

"Akan ada lembaga independen yang memastikan apakah UTD sudah melaksanakan standar yang ditetapkan pemerintah. Lembaga inilah yang nantinya menilai dari semua aspek," kata Farichah pada kegiatan puncak peringatan Hari Donor Darah Sedunia 2019 di Kantor Kemkes, Jakarta, Senin (24/6).

Farichah mengatakan, Kemkes saat ini sedang menyusun standar akreditasi UTD. Standar akreditasi ini mengacu pada standar-standar yang sudah ada saat ini. Ditargetkan standar akreditasi ini sudah bisa dilaksanakan pada 2020-2021 mendatang. Menurut Farichah, akreditasi penting untuk melindungi masyarakat khususnya orang yang membutuhkan darah, petugas UTD, dan lembaga transfusi darah itu sendiri.

Pelayanan darah yang aman ini sejalan dengan tema Hari Donor Darah Sedunia tahun 2019, yaitu "Darah yang Aman untuk Semua". Tema ini mendorong lebih banyak orang di seluruh dunia untuk menjadi pendonor darah dan mendonorkan darah secara teratur. Hari Donor Darah Sedunia diperingati setiap tanggal 14 Juni oleh negara-negara di seluruh dunia.

 



Sumber: Suara Pembaruan