Masyarakat Diajak Lawan Hoax Kesehatan

Masyarakat Diajak Lawan Hoax Kesehatan
Topicana Slim memggelar acara #BeatDiabetes yang diadakan Minggu (14/7/2019), untuk mengajak masyarakat dam melawan hoaks mngenao kesehatan, terutama mengenai diabetes. ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Minggu, 14 Juli 2019 | 19:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini banyak hoax yang beredar di masyarakat. Untuk itu, masyarakat harus ikut peduli untuk mencegah dan melawan hoaks kesehatan, khususnya diabetes.

Brand Manager Tropicana Slim, Noviana Halim, mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi digital saat ini memungkinkan informasi tersebar begitu cepat, termasuk informasi kesehatan.

"Sayangnya, banyak informasi tersebut yang keliru atau biasa disebut hoax, sehingga sangat berpotensi merugikan masyarakat," ungkap Noviana, di Jakarta, Minggu (14/7/2019).

Noviana mengatakan masyarakat Indonesia juga masih berpersepsi bahwa 'makanan sehat itu pasti kalah nikmat dibandingkan makanan tidak sehat'. Menurutnya, persepsi ini keliru. Melalui acara #BeatDiabetes, pihaknya menghadirkan festival makanan minuman dengan berbagai sajian makanan minuman bebas atau rendah gula dan tetap nikmat, sehingga dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi diabetesi.

"Diharapkan, kegiatan ini dapat mengajak masyarat meningkatkan kesadaran bahwa konsumsi gula harus dibatasi namun rasa manis tetap dapat dinikmati," tandas Noviana.

Kepala Divisi Metabolik-Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dr Dante Saksono, mengatakan, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi penyandang diabetes telah naik menjadi 8,5 persen, dari 6,9 persen (Riskesdas 2013). Selain itu, data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017 menyebutkan, sebanyak 10,3 juta jiwa masyarakat Indonesia merupakan diabetesi, membuat Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetesi terbesar.

"Beredarnya informasi hoax kesehatan di masyarakat, termasuk tentang diabetes, tentunya dapat memperburuk kondisi yang ada," papar dr Dante.

Dante menambahkan, salah satu informasi yang sering keliru di masyarakat adalah terkait pemanis rendah kalori. Nyatanya, pemanis rendah kalori sebagai pengganti gula pasir sudah lazim dipakai sebagai alternatif penggganti gula, serta mendapatkan izin edar dari BPOM, sehingga sudah terbukti aman di konsumsi. Menurut anjuran Kementerian Kesehatan (Kemkes), batas maksimum konsumsi gula seseorang hanya 4 sendok makan perhari.

"Hadirnya pemanis rendah kalori dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang perlu membatasi asupan gula hariannya," terang dr Dante.



Sumber: Investor Daily