Dapat Stigma Negatif dari Petugas, 220.000 ODHA Enggan Jalani Pengobatan

Dapat Stigma Negatif dari Petugas, 220.000 ODHA Enggan Jalani Pengobatan
Obat antiretroviral (ARV) bagi penderita HIV/AIDS. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / IDS Jumat, 19 Juli 2019 | 14:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Moeloek, mengatakan, sampai saat ini status penyakit HIV/AIDS masih seperti fenomena gunung es. Meskipun penyakit ini masuk ke Indonesia cukup lama dan berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan, tetapi masih saja sulit untuk menemukan seluruh penderitanya.

Menurut estimasi terakhir Kementerian Kesehatan (Kemkes), jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia sebanyak 640.443 orang, namun baru sebanyak 338.000 di antaranya yang ditemukan atau dilaporkan. Dari yang ditemukan itu hanya sekitar 35% atau 118 .000 di antaranya yang patuh minum obat sampai saat ini. Artinya masih ada sekitar 220.000 ODHA yang tidak menjalani pengobatan. Mereka berpotensi besar menularkan kepada orang lain.

“HIV ini fenomena gunung es, yang ditemukan hanya sebagian, dasarnya lebih banyak. Kita harus menemukan penderita HIV. Kami mendorong penderita HIV ditemukan untuk bisa diobati,” kata Menkes dalam keterangan tertulis yang diterima SP, Kamis (18/7).

Hal itu dibenarkan oleh Kasubdit HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Sedya Dwisangka. Saat dihubungi SP Jumat (19/7), ia mengatakan, belum maksimalnya kepatuhan minum dan rendahnya kesadaran untuk lakukan pemeriksaan sejak dini menyebabkan penularan HIV masih tinggi.

Padahal, kata Sedya, saat ini jumlah obat makin banyak, lebih berkualitas dan tersedia di fasilitas kesehatan. Obat antiretroviral (ARV) saat ini hanya diminum satu kali dalam sehari, tidak seperti dulu yang sampai 3 kali dengan efek samping minimal dan keberhasilan pengobatan tinggi. Selain itu, hampir semua puskesmas juga telah menyediakan tes HIV untuk ibu hamil dan kelompok berisiko. Sayangnya, kesadaran untuk melakukan tes sangat rendah. Sementara stigma dan diskriminasi juga masih tinggi akibat dari rendahnya pengetahuan masyarakat.

Irwandy Widjaja dari Monitoring Community Indonesia AIDS Coalition (IAC), mengatakan, jumlah ODHA yang ditemukan dan menjalani pengobatan masih rendah karena berbagai faktor. Salah satunya, stigma dan diskriminasi masih tinggi di masyarakat lantaran penyakit ini dianggap berkaitan dengan penyimpangan moral. Ironisnya, stigma justru lebih tinggi dilakukan tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan. Padahal stigma dan diskriminasi hanya akan menjauhkan mereka dari layanan kesehatan, dan justru menyebabkan penyakit ini tidak pernah terkendali.

Selain itu, ODHA yang bekerja sebagai pegawai swasta sulit mengakses ARV di fasilitas kesehatan, karena layanan hanya diberikan di pagi dan siang hari.

“ODHA yang bekerja di sektor swasta mengalami kesulitan untuk mengakses obat ARV. Tidak mungkin mereka terus-terusan cuti atau libur. Selain itu, komunitas ODHA juga mengalami kendala jarak ke layanan, ada yang bosan minum obat, dan putus di tengah jalan karena kurang pendampingan,” kata Irwandy.

Menurut Irwandy, HIV/AIDS masih membutuhkan perhatian serius pemerintah karena penularannya masih tinggi. Jika diabaikan, ini bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan pun. Selain itu, kasus HIV/AIDS pada anak meningkat yang menjadi bibit penularan baru jika tidak ditanggulangi dengan pengobatan yang tepat. Untuk obat ARV sendiri, menurut Irwandy, masalah ketersediaan di sejumlah daerah mulai teratasi. Hanya yang dikeluhkan saat ini adalah obat ARV yang kedaluarsa.

Menurut Irwandy, masih ditemukan obat ARV yang mulai kedaluarsa dan sudah kedaluarsa yang diberikan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan. Sayangnya, ODHA tidak punya pilihan lain selain tetap mengonsumsinya.



Sumber: Suara Pembaruan