Ini Alasannya Mengapa Perempuan Dilarang Menikah Dini

Ini Alasannya Mengapa Perempuan Dilarang Menikah Dini
Ilustrasi. ( Foto: ist )
Dina Manafe / CAH Selasa, 13 Agustus 2019 | 08:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di Indonesia, angka pernikahan usia dini atau usia anak di bawah 18 tahun masih sangat tinggi. Padahal menikah di usia yang belum cukup sangat rentan terhadap berbagai risiko.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan, menikah di usia dini banyak sekali risiko yang mengintai mulai dari penyakit berbahaya sampai kematian. Karena itulah pihaknya sangat menganjurkan seorang perempuan menikah dan hamil minimal di usia 20 tahun. Secara kesehatan reproduksi di usia ini perempuan sudah sangat siap untuk hamil dan memiliki anak.

Dari sisi kesehatan reproduksi bisa dijelaskan bahwa sebelum usia 20 tahun mulut rahim perempuan pada posisi terbuka ke luar atau dalam medis disebut ekstropion. Ketika masih dalam kondisi ekstropion terdapat batas antara sel pipih dan sel lonjong. Ketika batas antara sel ini terbentur oleh testis, maka akan berkembang menjadi kanker mulut rahim setelah 15 sampai 20 tahun kemudian.

“Ketika berhubungan layaknya suami isteri sebelum usia 20 tahun, maka potensi besar untuk terjadi kanker mulut rahim setelah 15-20 tahun kemudian,” kata Hasto di depan ratusan remaja usai nonton bareng film “Dua Garis Biru” di Cinema XXI Lippo Plaza Kramat Jati, Senin (12/8/2019).

Hasto melanjutkan, ekstropion tersebut baru akan tertutup setelah usia 20 tahun, yang dalam medisnya disebut intropion. Dalam kondisi intropion, maka potensi terjadinya kanker mulut rahim bisa dicegah. Itulah alasannya mengapa perempuan lebih disarankan untuk kawin di usia minimal 20 tahun.

Selain risiko jangka panjang berupa kanker, ada pula risiko jangka pendeknya. Hasto yang juga adalah dokter spesialis kandungan ini mengatakan, kehamilan dan persalinan di usia remaja berisiko tinggi perdarahan. Perdarahan merupakan penyebab utama angka kematian ibu tinggi di Indonesia. Ini dikarenakan pada kelahiran anak pertama proses persalinannya sangat panjang dan melelahkan, bisa 12 jam bahkan 18 jam. Untuk remaja yang rahimnya belum siap, proses kontraksi saat persalinan ini bisa menyebabkan perdarahan dan kematian.

“Kalau dipaksa untuk kontraksi sampai 18 jam, maka rahim akan kelelahan. Begitu bayi mau lahir, tidak bisa kontraksi maka placenta atau ari-ari tidak bisa lahir. Ketika kontraksi tidak bagus, placenta hanya robek sebagian, maka terjadilah perdarahan,” kata Hasto yang telah menangani 63.000 persalinan sejak 1995 sampai sebelum diangkat jadi kepala BKKBN baru-baru ini.

Lanjut Hasto, dalam kondisi perdarahan berat, operasi pengangkatan rahim atau histerektomi adalah satu-satunya cara untuk menyelematkan si ibu. Meskipun ini adalah mimpi buruk bagi perempuan karena selamanya tidak akan bisa hamil lagi.

Risiko lainnya adalah kematian ibu dan bayi sekaligus. Ini berpotensi terjadi karena remaja yang belum mencapai usia 20 tahun diameter tulang panggulnya belum selebar 10 cm. Padahal kepala bayi yang akan dilahirkan selebar 10 cm. Dengan tulang panggul remaja yang belum ideal tersebut ketika saat persalinan risiko terjadi malapetaka untuk bayi dan ibunya sekaligus. Jalan lahir bayi bisa robek, dan terjadilah perdarahan.

“Jadi ketika kita lihat banyak anak remaja usia 17 atau 18 tahun melahirkan ada perdarahan maka ada dua kemungkinan. Bisa jadi ari-ari tidak lahir karena kontraksi tidak bagus, dan robek jalan lahirnya,” kata Hasto.

Hasto mengajurkan risiko-risiko akibat kawin dini ini tidak boleh disepelekan. Sebab, efeknya terhadap masa depan khususnya perempuan bisa mengerikan.



Sumber: Suara Pembaruan