Banyak Warga Lebak Masih Percaya SKM adalah Susu

Banyak Warga Lebak Masih Percaya SKM adalah Susu
Ketua YAICI (Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia) Arif Hidayat. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Indah Handayani / FER Kamis, 15 Agustus 2019 | 18:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Edukasi gizi sehat yang dilakukan bersama YAICI (Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia) dan PW Aisyiyah Banten di Lebak, Banten, menemukan fakta miris tentang kuatnya persepsi warga bahwa SKM (Susu Kental Manis) adalah susu. Untuk itu, perlu sosialisasi intensif tentang kandungan gula berlebihan pada SKM untuk mencegah dampak konsumsi SKM pada bayi dan balita.

"Selama ini kami tahunya kalau susu kental manis itu ya susu. Jadi kalau ditanya mengapa beli SKM, karena menurut kami SKM memang produk susu," kata salah seorang warga Baduy yang hadir di acara sosialisasi Gerakan Aisyiyah Sehat (Grass) dan Edukasi Gizi kerja sama YAICI dan Majelis Kesehatan PWA Banten.

Jawaban jujur tersebut ternyata diamini oleh sebagian ibu-ibu yang hadir di acara sosialisasi. "Ya pak, selama ini kami tahunya SKM ya produk susu. Kan namanya juga Susu Kental Manis," kata seorang ibu yang hadir membawa anak balita.

Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat menjelaskan, wajar banyak masyarakat yang masih berpendapat bahwa SKM adah susu.

"Karena memang selama seratus tahun masyarakat dicecoki iklan di televisi yang menyatakan SKM adalah susu," ujar Arif Hidayat dalam keterangan persnya, Kamis (15/8/2019).

Hasil penelitian YAICI di kota Kendari mendapati 97 persen masyarakat percaya bahwa SKM adalah susu. Sementara, di kota Batam, sebanyak 78 persen masyarakat percaya bahwa SKM adalah susu.

Arif menambahkan, akibat kepercayaan yang tinggi bahwa SKM produk susu, menyebabkan intensitas pemberian SKM di kota Kendari sangat besar. Para orang tua yang memberikan SKM setiap hari kepada anak mencapai 55 persen. Sebanyak 31 persen memberikan SKM dua hari sekali. Dan ada 12 persen orang tua yang memberikan SKM satu minggu sekali kepada anaknya.

Kondisi ini menggerakkan YAICI untuk terus meluruskan persepsi yang salah terkait SKM, dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa SKM bukan susu. Menggandeng PP Aisyiyah, YAICI sudah bekerja sama melakukan sosialisasi di tiga provinsi, yakni Jawa Barat (Jabar), Banten dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Ini adalah kelanjutan dari kerja sama YAICI dengan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Banten. Dimana sosialisasi kali ini digerakkan oleh kader PWA Banten," kata Arif.

Sementara itu, ketua Majelis Kesehatan PWA Banten, Maryama Husni, menyatakan, sosialisasi Grass di kabupaten Lebak langsung diadakan di dua desa, yakni desa Bojongmenteng dan desa Sangkanwangi, yang terletak di kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak, propinsi Banten.

Berbeda dengan Wilayah Aisyiyah Bekasi yang pelaksanaan sosialisasinya dimulai dari tingkat daerah dan diteruskan ke Pimpinan cabang dan ranting, edukasi di Lebak kali ini berkolaborasi antara Pimpinan Daerah Aisyiyah Lebak dan Pimpinan Cabang Larangan, yang bernaung di bawah PDA Tangerang Kota.

"Kami sangat mengapresiasi kerja sama dengan YAICI, karena ini sangat membantu kami mengedukasi warga tentang pentingnya pemahaman gizi. Termasuk edukasi tentang SKM sangat penting untuk menyadarkan warga bahwa SKM bukan susu, tetapi hanyalah produk makanan pelengkap yang mengandung susu," tegas Maryama.



Sumber: Investor Daily