Kemkes Dukung Penelitian Lanjutan Bajakah Sebagai Obat Kanker

Kemkes Dukung Penelitian Lanjutan Bajakah Sebagai Obat Kanker
Akar Bajakah di Hutan Palangkaraya, Kalimantan Tengah ( Foto: Youtube Adit Makarti )
Dina Manafe / IDS Selasa, 27 Agustus 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penelitian awal tanaman bajakah sebagai obat kanker yang dilakukan tiga pelajar SMA 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, masih menuai pro dan kontra di masyarakat. Pasalnya, usai pelajar tersebut mendapat penghargaan dan viral di media sosial, tak sedikit masyarakat yang memburu tanaman ini sebagai pengobatan kanker. Bahkan bajakah juga diperjualbelikan secara daring meski secara medis masih banyak pihak yang meragukan khasiat dan mutunya.

Kementerian Kesehatan (Kemkes) sendiri menilai temuan ini adalah potensi yang harus dikembangkan. Namun, Kemkes melihat bahwa terlalu dini untuk mengklaim bajakah sebagai obat kanker karena masih perlu dibuktikan secara kajian ilmiah melalui uji praklinis (pada hewan) dan uji klinis (pada manusia). Masih diperlukan penelitian lebih lanjut sesuai kaidah penelitian di Indonesia yang membutuhkan waktu lama dan anggaran besar.

Oleh karena itu, Kemkes akan mendukung penelitian lebih lanjut tersebut sampai terbukti khasiat dan keamanannya hingga menjadi obat kanker yang diterima dalam dunia kedokteran.

Dukungan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek usai bertemu dengan tiga siswa penemu bajakah, yaitu Yazid, Aysa Aurealya, dan Anggina Rafitri yang didampingi orang tua dan gurunya di Kantor Kemkes, Senin (26/8).

"Kami hargai anak anak-anak yang bisa memikirkan penelitian. Saya minta ini didorong dan mungkin dibantu para guru juga. Dari Balitbangkes Kemkes tentu bersedia sekali untuk terus meneliti ini sampai benar benar bermanfaat untuk masyarakat," kata Menkes.

Menurut Menkes, dalam praktiknya di masyarakat, air bajakah bisa menyembuhkan penderita kanker, dan dipergunakan secara turun temurun. Khasiat tanaman ini juga telah diujicobakan pada mencit dan diteliti oleh Universitas Lambung Mangkurat. Dari penelitian itu terbukti bahwa bajakah mengandung antiradikal bebas tinggi, yang berperan untuk membunuh sel kanker.

Potensi bajakah bisa dikembangkan menjadi herbal atau bahkan fitofarmaka (obat dari bahan alam). Namun, untuk jadi fitofarmaka, harus terbukti khasiat dan keamanannya secara ilmiah melalui uji pre klinis maupun uji klinis. Untuk membuktikan apakah zat aktif yang terkandung dalam bajakah berkhasiat mematikan sel kanker, maka perlu penelitian dengan metodologi yang benar.

Sementara penelitian awal siswa SMA Palangkarya belum sampai ke situ, sehingga belum bisa diklaim sebagai obat kanker. Meskipun dari sisi keamanan sebetulnya tidak diragukan lagi karena telah jadi pengobatan secara turun temurun di masyarakat setempat.



Sumber: Suara Pembaruan