Butuh 10 Tahun untuk Proses Bajakah Menjadi Obat Kanker

Butuh 10 Tahun untuk Proses Bajakah Menjadi Obat Kanker
Akar Bajakah di Hutan Palangkaraya, Kalimantan Tengah ( Foto: Youtube Adit Makarti )
Dina Manafe / IDS Selasa, 27 Agustus 2019 | 12:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penelitian awal tanaman bajakah sebagai obat kanker yang dilakukan tiga pelajar SMA 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, masih menuai pro dan kontra di masyarakat. Pasalnya, usai pelajar tersebut mendapat penghargaan dan viral di media sosial, tak sedikit masyarakat yang memburu tanaman ini sebagai pengobatan kanker.

Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siswanto mengatakan, penelitian awal yang dilakukan para pelajar ini baru sebatas kuantitatif, belum berdasarkan metodologi yang betul. Untuk membuktikan apakah zat aktif bajakah benar-benar ampuh mematikan sel kanker, masih dibutuhkan proses panjang. Ia memprediksi total waktu yang dibutuhkan minimal 7-10 tahun untuk keseluruhan proses penelitian.

Dimulai dari uji praklinis, yaitu uji pada sel kanker lainnya, dan setelah terbukti baru diujicobakan pada hewan. Jika terbukti baru masuk ke uji klinis pada manusia melalui tiga fase. Pertama, untuk melihat toksisitas atau sisi keamanan dan cara kerjanya. Kedua, untuk membuktikan efikasi atau manfaatnya dengan sampel jumlah pasien terbatas. Ketiga, dengan jumlah pasien banyak. Jika semua itu terbukti barulah bisa diklaim bajakah memiliki efek membunuh sel kanker.

Kemudian masuk pada tahap isolasi bahan aktif yang terkandung dalam tanaman itu. Setelah itu melalui tahapan yang sama dengan awal, yakni uji praklinis, dan uji klinis. Hanya bedanya, saat uji klinis pada manusia, bahan ujinya harus diproduksi oleh industri melalui cara pembuatan obat yang benar (CPOB).

Jika dalam tahapan tersebut tidak tebukti efek khasiatnya, maka penelitian bisa dihentikan. Dari seluruh kandidat yang diteliti hanya tersisa 5% yang benar-benar akan jadi obat.

"Jadi langkahnya masih panjang. Untuk uji praklinis paling cepat itu 2 tahun dan uji klinis minimal 5 tahun. Dan harus kerja sama industri," kata Siswanto di Jakarta, Senin (26/8).

Menurut Siswanto, tim Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Litbangkes Kemkes sudah turun ke Palangkaraya dan menemukan ada 200 spesies bajakah yang berpotensi untuk dikembangkan jadi fitofarmaka. Namun untuk jadi obat kanker masih perlu waktu panjang, dan butuh keterbukaan masyarakat setempat.

Untuk saat ini masyarakat diminta tidak menjadikan bajakah sebagai pengobatan utama karena belum terbukti khasiatnya secara ilmiah. Masyarakat boleh menggunakannya sebagai pengobatan tambahan setelah pengobatan medis atau kedokteran.



Sumber: Suara Pembaruan