Di Tangan Dokter Ismawati, Pasien Tak Perlu Dirujuk ke Rumah Sakit

Di Tangan Dokter Ismawati, Pasien Tak Perlu Dirujuk ke Rumah Sakit
Ismawati. (Foto: B1/Anselmus Bata)
Anselmus Bata / AB Minggu, 1 September 2019 | 19:45 WIB

“MENCEGAH lebih baik daripada mengobati.” Deretan kata-kata itulah yang dilaksanakan dokter Ismawati yang meraih BPJS Kesehatan Award untuk kategori dokter praktik mandiri. Dokter muda lulusan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) ini sangat memperhatikan peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang menjadi tanggung jawabnya.

Saat ini dokter Ismawati harus melayani sekitar 3.200 peserta JKN-KIS. Dalam menjalankan tugasnya, dokter yang lulus kuliah tahun 2008 ini mengedepankan aspek promotif dan preventif. Untuk itu, dia senantiasa melakukan penyuluhan kesehatan, mengunjungi peserta secara bergiliran, serta berkomunikasi dengan peserta lewat WhatsApp, termasuk mengingatkan peserta yang menderita penyakit kronis yang masuk dalam program pengelolaan penyakit kronis (prolanis).

Tak heran apabila jumlah pasien yang datang berobat setiap hari hanya sekitar 20 orang sampai 30 orang. Mereka dilayani saat jam praktik pukul 16.00 WIB sampai 21.00 WIB. Bahkan, Ismawati siap sedia 24 jam untuk melayani pasien yang sangat membutuhkan pertolongannya.

“Dengan mengedepankan aspek promotif dan preventif, kita ingin agar orang yang sehat, tetap sehat dan produktif, tidak sampai sakit,” katanya kepada Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris yang berkunjung ke tempat praktiknya di Desa Batumandi, Kecamatan Batumandi, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (31/8/2019).

Namun, bagi peserta yang sakit dan memang tidak perlu ditangani dokter spesialis, dokter Ismawati akan mengobati penyakitnya hingga sembuh. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer dan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Standar Kompetensi Dokter Indonesia.

Pelayanan kesehatan tingkat pertama atau primer meliputi pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat nonspesialistis, meliputi pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Sebanyak 144 penyakit harus bisa diselesaikan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti puskesmas dan juga dokter praktik mandiri, sehingga tidak perlu dirujuk ke rumah sakit. Penyakit tersebut, antara lain kejang demam, migrain, insomnia, influenza, pneumonia, tuberkulosis, hipertensi esensial, demam tifoid, kehamilan normal, diabetes melitus, malaria, dan luka bakar.

“Warga di sini senang makanan manis dan juga bersantan, sehingga banyak yang menderita diabetes dan hipertensi. Pasien yang menderita diabetes dan hipertensi terus kami jaga agar penyakitnya tidak semakin parah. Pola makan mereka harus diatur dan rutin memeriksa kesehatan, serta berolahraga,” katanya.

Panutan
Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengapresiasi kinerja dokter Ismawati dan bisa menjadi role model (panutan) bagi dokter praktik perseorangan dalam program JKN-KIS. Menurutnya, praktik dokter Ismawati hampir sama dengan praktik dokter keluarga yang berjalan di Belanda, Jerman, dan Prancis. Tugas dokter keluarga adalah menjaga agar peserta asuransi kesehatan tidak sakit dan mengobatinya saat sakit.

“Kita menggunakan sistem kapitasi dengan menyerahkan sejumlah uang kepada dokter perseorangan untuk menjaga kesehatan peserta JKN-KIS. Apabila ada yang sakit, uang itu yang dipakai untuk pengobatannya,” ujar Fachmi.


Ismawati dan Fachmi Idris.

Dengan melayani 3.200 peserta dan dana kapitasi Rp 8.000 per peserta, total dana yang diberikan BPJS Kesehatan kepada dokter Ismawati pada tanggal 15 setiap bulan mencapai Rp 25.600. Uang tersebut digunakan untuk menjaga kesehatan peserta dan mengobatinya saat sakit. Apabila semakin banyak peserta yang sakit, insentif bagi dokter pun akan semakin kecil. Oleh karena itu, aspek promotif dan preventif harus dikedepankan dalam program JKN-KIS.

Untuk itu, dokter harus sering berkomunikasi dengan peserta untuk mengecek kondisi kesehatan mereka. Di Jerman, setiap dokter wajib menghubungi pasiennya empat kali setahun, sedangkan di Indonesia baru 1,5 kali dan ke depan akan terus ditingkatkan.

“Dalam program JKN-KIS, kita mengedepankan pendekatan promotif dan preventif. Dokter yang baik itu harus menghubungi peserta atau pasiennya. Dokter Ismawati menjadi salah satu role model,” kata Fachmi.



Sumber: BeritaSatu.com