Audisi Beasiswa Bulutangkis Tak Boleh Eksploitasi Anak

Audisi Beasiswa Bulutangkis Tak Boleh Eksploitasi Anak
Kampanye Antirokok. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / FMB Senin, 2 September 2019 | 20:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora), Ikatan Dokter Anak Indonesia, Lentera Anak, dan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Anak dari Zat Adiktif mempersilakan Djarum Foundation untuk melanjutkan audisi bulutangkis, tetapi tidak boleh mengeksploitasi anak. Semua aktivitas audisi tidak boleh menggunakan anak sebagai promosi brand image Djarum.

Komisioner Bidang Kesehatan KPAI, Sitty Hikmawati, mengingatkan penyelenggara audisi menghentikan penggunaan brand image pada kaus peserta audisi, termasuk semua logo dan banner di seluruh titik kegiatan audisi. Kegiatan yang melibatkan anak dengan tujuan mencitrakan seolah rokok adalah produk normal sudah tergolong eksploitasi. Ini tidak hanya melanggar UU Perlindungan Anak, melainkan juga PP 109/2019 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Pasal 47 PP Nomor 109 menegaskan, setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori produk tembakau dan atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun.

“Kalau Djarum tetap ingin melanjutkan kegiatan audisi beasiswa bulutangkis ini, kami minta untuk sesegera mungkin menghentikan penggunaan anak sebagai media promosi. Sikap kami zero toleransi. Nama kegiatan juga harus diubah,” kata tegas Sitty dalam diskusi media di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Sebelumnya, Yayasan Lentera Anak melakukan pemantauan terhadap kegiatan audisi beasiswa Badminton Djarum di empat kota pada 2018. Hasilnya menunjukkan, selama kegiatan berlangsung anak-anak diharuskan mengenakan kaos bertuliskan Djarum dan terpapar berbagai media promosi dengan logo dan brand image Djarum di seluruh tempat kegiatan. Ini menunjukkan adanya eksploitasi ekonomi terselubung pada anak karena memanfaatkan tubuh anak untuk mempromosikan brand image produk tembakau.

Beasiswa badminton Djarum kembali digelar tahun ini, tepatnya di kota Purwokerto pada 8 September 2019 mendatang. Ketua Lentera Anak, Lisda Sundari, mengatakan, pihaknya akan terus mengawasi pelaksanaan kegiatan audisi tersebut. “Kami akan tetap mengawasi dan memastikan bahwa kegiatan audisi bulutangkis ini nantinya tidak ada lagi embel-embel brand image Djarum,” kata Lisda.

Industri rokok akan terus dan selalu melakukan iklan, promosi dan sponsor rokok, khususnya menyasar anak-anak muda. Selain lewat olah raga, tren promosi industri rokok sekarang masuk ke film-film khususnya film usia 13 tahun ke atas. Mereka mencari perokok baru. Anak-anak dan remaja merupakan pasar potensial yang menjadi masa depan industri rokok karena perokok loyal ada yang sakit dan meninggal atau berhenti merokok.

“Perokok loyal ini harus digantikan oleh perokok baru potensial. Sehingga industri rokok terus mencari pasar baru. Mereka tidak akan mau dihentikan,” kata Nina Muthmainah Armando, Ketua Departemen Komunikasi UI



Sumber: Suara Pembaruan