5 Korban Tewas, Pemerintah AS Rilis Bahaya Vaping

5 Korban Tewas, Pemerintah AS Rilis Bahaya Vaping
Rokok elektronik (vape). ( Foto: Antara / M Agung Rajasa )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 10 September 2019 | 02:31 WIB

Beritasatu.com - Vaping atau penggunaan rokok elektronik diduga telah menyebabkan lima orang tewas di lima negara bagian Amerika Serikat, meliputi Indiana, California, Minnesota, Illinois dan Oregon.

Jumat (6/9/2019) lalu, pejabat kesehatan Indiana membenarkan seorang pasien meninggal akibat luka serius di paru-paru. Di Minnesota, seorang pasien meninggal terkait rokok elektronik bulan lalu, dan Los Angeles juga melaporkan kematian terkait vaping.

Di seluruh negeri, para pejabat kesehatan AS mengatakan tengah menyelidiki lebih dari 450 kasus penyakit yang diduga terkait vaping di 33 negara bagian.

Pemerintah AS melalui the Centers for Disease Control (CDC) mengatakan sejumlah tipe paparan kimiawi mungkin menjadi penyebab penyakit tersebut, tetapi informasi lebih rinci diperlukan untuk menentukan penyebab pastinya.

Sejumlah lembaga kesehatan AS merilis peringatan di situs CDC.

"CDC, Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), kantor-kantor kesehatan negara bagian dan daerah, dan para mitra klinik dan kesehatan masyarakat sedang menyelidiki wabah lintas negara bagian berupa penyakit paru terkait penggunaan produk e-cigarette (perangkat, cairan, botol isi ulang, dan/atau wadahnya/cartridge). Investigasi masih berjalan dan belum menetapkan satu penyebab, tetapi semua kasus yang dilaporkan menyebutkan riwayat penggunaan produk-produk e-cigarette," bunyi pernyataan tersebut seperti dilihat Beritasatu.com.

"E-cigarette adalah perangkat yang mengirim aerosol kepada pengguna dengan cara memanaskan cairan yang umumnya mengandung nikotin, perisa, dan bahan-bahan kimia lainnya. E-cigarette juga bisa digunakan untuk menyalurkan mariyuana atau zat lainnya."

Menurut CBS News, banyak dari pasien itu mengatakan sebelumnya mengisap produk rokok elektronik THC dengan bahan kimia yang dihasilkan dari mariyuana, sementara sebagian kecil mengaku menggunakan e-cigarette yang biasa.

CDC tidak secara khusus menyebut merek e-cigarette, tetapi menunjukkan kekhawatiran atas semua produk yang dijual di jalanan, atau produk yang diolah lagi oleh pengguna.

"Mereka sangat khawatir pada zat-zat tak dikenal yang dibeli orang-orang di jalanan," kata dr Jonathan LaPook, koresponden CBS News untuk masalah medis.

"Mereka tidak menganggapnya sebagai infeksi, kemungkinan adalah semacam iritasi kimia. Anda pikirkan ini, perangkat e-cigarette benar-benar mirip alat pengolah kimia. Anda masukkan cairan, menjilatnya, memanaskannya -- jadi ada semacam reaksi kimia. Anda juga meramu jenis-jenis kimia yang berbeda. Anda tidak sepenuhnya yakin jenis kimianya, tetapi kami yakin pada satu hal: Anda sangat sering menghirupnya."

Korban di Indiana disebutkan berusia di atas 18 tahun, tetapi tidak ada informasi tambahan. Kantor kesehatan Indiana membenarkan ada delapan kasus penyakit paru akut terkait vaping dan tengah menyelidiki 20 kasus lainnya.

(Antara Photo)

Di Minnesota, pasien yang meninggal berusia di atas 65 tahun dan cukup lama dirawat karena komplikasi. Epidemiologist Minnesota dr Ruth Lynfield mengatakan pasien itu punya riwayat penyakit paru dan dikirim ke rumah sakit ketika sudah akut. Saat ini sedang diselidiki apakah kasusnya terkait produk THC.

Pejabat kesehatan Los Angeles dr Muntu Davis mengatakan korban meninggal berusia lebih dari 55 tahun dengan penyakit kronis.

Para penyelidik kesehatan sedang memeriksa apakah kandungan minyak dari Vitamin E yang ditemukan dalam sampel produk vaping mariyuana dari pasien di berbagai penjuru negeri adalah penyebab kasus-kasus ini.

"Kami mengimbau para konsumen agar tidak membeli produk-produk vaping di jalanan, dan menghindari penggunaan minyak THC atau memodifikasi zat dalam produk yang dijual di toko-toko," tulis Komisioner FDA dr Ned Sharpless di akun Twitter.

Seorang remaja di Illinois dirawat di rumah sakit sejak pekan lalu dan mengeluh paru-parunya "seperti sudah berusia 70 tahun" setelah menggunakan vaping dengan produk THC.

"Paru-paru saya tidak akan pernah bisa sama lagi," kata Adam Hergenreder, 18.

Awal pekan ini, gubernur Michigan mengumumkan akan menjadi negara bagian pertama yang melarang e-cigarette dengan perisa.



Sumber: CBS News, Beritasatu