SHKJ Siapkan Perawatan Intensif Bayi dengan Kondisi Khusus

SHKJ Siapkan Perawatan Intensif Bayi dengan Kondisi Khusus
Esthernita F. Dewanto, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan neonatal dan ketua tim NICU Siloam Hospitals Kebon Jeruk, di acara edukasi media "Perawatan Intensif untuk Bayi Baru Lahir dengan Kondisi Khusus" di Jakarta, Jumat (13/9/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Jumat, 13 September 2019 | 17:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Selama dalam kandungan, bayi bergantung penuh pada ibu. Ketika bayi lahir, sejak itulah bayi harus beradaptasi dengan lingkungan dan menggunakan organ-organ tubuhnya secara mandiri. Sayangnya, tidak semua bayi lahir dengan kondisi normal sehingga dapat menghambat proses pertumbuhan dan membutuhkan pertolongan medis intensif.

Dokter spesialis anak konsultan neonatal dan ketua tim NICU Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Naomi Esthernita F Dewanto, mengatakan perawatan intensif bagi bayi yang baru lahir memerlukan suatu ruangan, teknologi, dan tentunya kompetensi khusus dari dokter dan tim medis.

"Ruangan khusus untuk bayi yang baru lahir disebut dengan Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Pada NICU, tersedia alat-alat yang dibutuhkan untuk perawatan intensif serta dilakukan pemantauan terus-menerus oleh tim medis yang telah melalui pelatihan khusus dengan kompetensi yang spesifik, baik dokter dan perawat," jelas Naomi di sela media gathering SHKJ, di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Naomi menjelaskan, beberapa kondisi yang membuat bayi memerlukan perawatan intensif adalah lahir prematur, masalah dalam persalinan, berat badan tidak normal (<2.500 gram atau >4.000 gram), serta mengalami cacat bawaan.

"Bayi yang lahir dengan kebutuhan khusus tidak mampu untuk menggunakan organnya secara alami dan sangat memerlukan bantuan. Misalnya ventilator untuk pernapasan," jelasnya.

Selain dukungan alat dan pemantauan oleh tim medis, kata Naomi, bayi yang lahir dengan prematur atau kondisi tidak normal memerlukan juga asupan ASI dan skin to skin interaction dengan sang ibu. ASI dan interaksi antara bayi dan ibu sangat dibutuhkan dalam proses perbaikan kondisi bayi di NICU.

"Hal ini sudah dibuktikan di berbagai penelitian, salah satunya pemberian ASI dengan cara oral therapy pada bayi yang belum dapat minum. Sayangnya belum banyak NICU Center yang mendukung terciptanya interaksi ini," tambah Naomi.

Untuk itu, lanjut Naomi, SHKJ menerapkan Family Center Care (FCC) NICU pertama di Indonesia, yaitu ibu dan bayi berada di satu ruangan. Dengan konsep ini, ibu tetap bisa dekat dengan bayi dengan pemberian sofa khusus di samping bayi. Konsep ini memungkinkan untuk memberikan pelayanan yang komprehensif dan holistik dalam penanganan yang mengandalkan keluarga.

"Padahal di negara maju, konsep ini sudah lama sekali diterapkan. Orang tua bisa berpartisipasi dalam merawat bayi selama perawatan di NICU seperti, mengganti popok hingga melakukan kangaroo mother care yang diperuntukan bonding ibu ke bayi, serta mendukung pemberian ASI eksklusif," jelas Naomi.

Oleh karena itu, Naomi menyebutkan, hingga saat ini keberhasilan pemberian ASI eksklusif di NICU SHKJ mencapai 61 persen. "SHKJ, sangat mendukung pemberian ASI, sekalipun bayi masih dalam perawatan di NICU. Cakupan ASI yang diberikan juga harus tinggi karena ASI mengandung faktor pertumbuhan dan faktor imun yang tidak didapat di susu formula," tandas Naomi.



Sumber: Investor Daily