Gelar IDEC 2019, PDGI Harap Pelaku Industri Peka Terhadap Perkembangan Teknologi

Gelar IDEC 2019, PDGI Harap Pelaku Industri Peka Terhadap Perkembangan Teknologi
Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) digelar di JCC, pada 13-15 September 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Mashud Toarik / MT Sabtu, 14 September 2019 | 14:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) kembali menggelar Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC). Ini merupakan pameran dagang dan konferensi internasional kedokteran gigi kedua yang digelar PDGI, setelah even yang sama pada tahun 2017.

Dalam menyelenggarakan IDEC 2019 yang berlangsung tanggal 13 – 15 September 2019 di Jakarta Convention Centre tersebut, PB PDGI menggandeng Koelnmesse Pte.Ltd dan PT Traya Eksibisi Internasional.

Ketua PB PDGI, Sri Hananto Seno menyampaikan, IDEC bukan sekedar pameran dagang alat kesehatan kedokteran gigi, tapi sekaligus juga menjadi wadah ‘transfer of knowledge’ bagi para profesional dokter gigi di Indonesia agar lebih responsif terhadap perkembangan teknologi kedokteran gigi.

Untuk itu serangkaian lokakarya ilmiah dan demonstrasi teknologi kedokteran gigi ditampilkan secara komprehensif oleh 18 nara sumber ahli yang telah terbukti berpengalaman di antaranya dalam rehabilitasi dan bedah mulut, endodontic, ortodontik, periodontologi, serta sejumlah inovasi dalam self litigation, fotografi gigi dan seputar kedokteran gigi anak.

“Kami berharap IDEC menjadi agenda penting industri kedokteran gigi dan profesional dokter gigi untuk saling berbagi informasi dan berjejaring demi memajukan industri kedokteran gigi dan kualitas profesi dokter gigi Indonesia,” ujar Sri Hananto Seno sebagaimana dikutip dari keterangan resminya kepada Beritasatu.com, Sabtu (14/9/2019).

Lebih jauh PDGI menilai pentingnya penguasaan teknologi kedokteraan gigi yang didukung oleh perangkat alat kedokteran gigi mumpuni merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Sebab faktanya, baru sekitar 10% dari kebutuhan alat kesehatan dan bahan baku kedokteran gigi Indonesia dipenuhi oleh industri lokal. Sementara sisanya 90% masih bergantung pada bahan-bahan dan alat kedokteran gigi impor. “Tidak sedikit masalah terhambatnya penanganan masalah gigi bukan karena kurangnya skill dokter gigi, tetapi karena terkendalan peralatan yang terbatas,” urainya.

Untuk itu dia berharap para pelaku industri kesehatan di Indonesia terdorong memproduksi bahan baku dan alat kedokteran gigi sesuai dengan teknologi terkini. Karena untuk pasar dalam negeri saja, potensinya sangat besar.

Salah satu langkah mendorong penguasaan teknologi di industri kesehatan dan bahan baku kedokteran gigi, IDEC menghadirkan lebih banyak ekshibitor dari sejumlah negara. Harapannya agar terjalin kerja sama strategis dalam mengembangkan teknologi yang lebih solutif sesuai permasalahan gigi masyarakat di Indonesia.

Disampaikan Presiden Direktur Traya Eksibisi Internasional, Bambang Setiawan pada IDEC 2019 pihaknya mencatat peningkatan jumlah peserta lokal sebesar 15% dibandingkan IDEC 2017. Sementara jumlah peserta internasional tercatat mencapai 18 negara.

Sementara Managing Director Koelnmesse Pte. Ltd. Mathias Kuepper menyampaikan, dibanding penyelenggaraan IDEC 2017, jumlah peserta internasional mengalami peningkatkan hingga 40%.

Secara total IDEC 2019 diikuiti oleh 232 ekshibitor brand dari 18 negara dan 3 paviliun nasional dari Tiongkok, Korea Selatan dan Jerman.

Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, Oscar Primadi. Dalam sambutannya Oscar mengatakan kedokteran gigi berperan penting dalam peningkatan kualitas kesehatan nasional. Tidak sedikit penyakit berbahaya dan kronis justru bersumber dari masalah gigi dan mulut.

Sesuai dengan roadmap Rencana Aksi Nasional Kesehatan Gigi dan Mulut 2015 – 2030, melalui IDEC diharapkan menjadi momentum berbagai pihak untuk saling bersinergi untuk memberikan pelayanan maksimal kesehatan gigi dan mulut sehingga Indonesia bisa bebas karies gigi pada 2030.

“Program-program capacity building terus dilakukan pemerintah untuk peningkatan skill dokter di wilayah Indonesia bagian timur, mengatur penyebaran dokter gigi di wilayah terpencil, pemberian beasiswa dokter gigi dan sebagainya," urainya. Hanya saja diakui Oskar Primadi, Indonesia punya keterbatasan peralatan kedokteran gigi.



Sumber: Majalah Investor