Kagama Dapat Berperan untuk Pelayanan Kesehatan di Seluruh Indonesia

Kagama Dapat Berperan untuk Pelayanan Kesehatan di Seluruh Indonesia
Seminar Nasional III Pra Munas KAGAMA bertajuk “Kesehatan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0” di Gedung Eks DPRD Sulawesi Utara, Kamis 19 September 2019. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Jumat, 20 September 2019 | 08:04 WIB

Manado, Beritasatu.com - Pembangunan Sulawesi Utara (Sulut) diarahkan pada Sulut berdikari ekonomi, berdaulat politik, dan berbudaya. Di sektor kesehatan, pembangunan dititikberatkan pada pemantapan pembangunan SDM yang berkepribadian dan berdaya saing.

"Ini bertujuan untuk mewujudkan SDM yang sehat sebagai bagian dari perbaikan, salah satunya dengan terkendalinya kematian anak dan ibu yang melahirkan," kata Asisten Sekdaprov Sulut Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Edison Humiang. Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar III Pra-Munas Kagama bertajuk “Kesehatan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, Kamis (19/9/2019) di Gedung Eks DPRD Sulawesi Utara, Jl. Pemuda Nomor 6, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Edison mewakili Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey yang berhalangan hadir pada acara tersebut.

Pihaknya melanjutkan, Pemerintah Provinsi Sulut mendorong tersedianya fasilitas kesehatan, tenaga medis, terwujudnya infrastruktur dan fasilitas kesehatan dasar yang sesuai standar minimal kesehatan.

Ia juga getol mewujudkan terintegrasinya pola hidup yang sehat di Sulut dan terwujudnya akses kesehatan yang memadai dan berkualitas.

"Hasilnya menggembirakan. Angka Harapan Hidup (APH) meningkat. Tahun 2017 APH kita mencapai 71,02 tahun atau berada di atas rata-rata nasional yaitu 70,68 tahun," ungkapnya.

Ia berharap capaian tersebut senantiasa ditingkatkan melalui upaya yang konstruktif.

Melalui Seminar ini, pihaknya berharap dapat memberikan pemikiran dan kritik yang membangun dan selanjutnya diterapkan demi peningkatan derajat masyarakat Indonesia yang setinggi-tingginya.

Peran Kagama untuk Pemerataan Pelayanan Kesehatan

Sementara itu, Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) Krisnajaya dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa memasuki usia ke-74 tahun, Indonesia masih menghadapi masalah kesehatan dan masalah pemerataan pelayanan kesehatan.

Beberapa akar masalahnya, kata Krisna yaitu implementasi desentralisasi bidang kesehatan, kurang tersebarnya institusi pendidikan, sistem pembiayaan, dan lain-lain.

Menurut alumnus Fakultas Kedokteran UGM itu, salah satu solusi yang dapat diajukan adalah penggunaan teknologi informasi untuk mempermudah dan memperluas jangkauan pelayanan kesehatan.

"Kagama dapat banyak berperan dalam pemerataan pelayanan kesehatan," ungkapnya.

Pasalnya, saat ini banyak kepala dinas kesehatan provinsi dan kabupaten atau kota yang merupakan alumni UGM.

Hal tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi pendidikan dokter sehingga banyak peserta didik tertarik dan bersedia menjalani karier di dinas kesehatan.

"Kagama Daerah dapat menjadi agen penghubung antara pemerintah daerah dengan Fakultas Kedokteran untuk mengadakan kerja sama (MoU) antara pemda dengan UGM, bahkan bisa untuk mencarikan lulusan SMA di daerah dan dipersiapkan agar dapat masuk UGM," ujarnya.

Krisna menambahkan, Kagama juga bisa menyediakan beasiswa bagi peserta didik dari daerah, serta memberi pelatihan digital bagi tenaga kesehatan.



Sumber: BeritaSatu.com