Penyakit Kardiovaskular Masih Jadi Ancaman Global

Penyakit Kardiovaskular Masih Jadi Ancaman Global
PERKI menyelenggarakan 24th ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC), yang digelar pada 19-22 September 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Jumat, 20 September 2019 | 23:41 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman dunia (global threat) dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian di seluruh dunia. Badan kesehatan dunia (WHO) mendorong setiap negara untuk serius melakukan upaya upaya kesehatan yang berperan dalam mencegah ataupun mengatasi penyakit yang dapat berakibat fatal ini.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) yang didirikan sejak 1957 sebagai wadah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah telah bergerak aktif dalam berbagai lini untuk turut berperan dalam gerakan mengatasi penyakit kardiovaskular di Indonesia.

Mengingat pentingnya untuk terus meningkatkan pengetahuan tetang informasi baru seputar perkembangan bidang kardiologi yang terus berkembang, berdekatan dengan peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada 29 September, PERKI menyelenggarakan 24th ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC), yang digelar pada 19 – 22 September 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.

Kegiatan yang digelar untuk ke-24 kalinya ini diselenggarakan bersamaan dengan 28th Annual Scientific Meeting of the Indonesia Heart Association (28th ASMIHA), yang diperkirakan akan dihadiri sekitar 3.000 kardiolog dari negara-negara Asia.

President Asean Federation of Cardiology, Dr dr Anwar Santoso, SpJP (K), FIHA, FAsCC, FESC, FACC, mengatakan dengan kemajuan pesat dalam sains dan teknologi di bidang kardiologi, peran kami sebagai profesional di bidang ini terus berkembang, dan penting bagi para kardiolog untuk terus mendapatkan informasi terbaru melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.

"Kami percaya bahwa pertemuan AFCC ini akan merangsang pertukaran ide kreatif dan seirama dengan upaya pencapaian target penurunan penyakit kardiovaskular sebanyak 30 persen pada tahun 2030 nantinya," ungkap Anwar Santoso di Tangerang, Jumat (20/9/2019).

Lebih lanjut Anwar Santoso mengatakan, gagasan pertemuan ilmiah dan akademis di antara negara-negara ASEAN ini, diharapkan akan membuat hubungan yang lebih baik dan lebih hangat untuk kardiologi dari seluruh negara ASEAN, dan tentunya juga dapat menjadi wadah pertukaran informasi terbaru untuk menambah pengetahuan di bidang Kardiologi.

Kegiatan 24th ASEAN Federation Cardiology Congress merupakan hasil kolaborasi antara PERKI, Asian Pacific Society of Cardiology (APSC), American College of Cardiology (ACC), European Society of Cardiology (ESC), Cardiac Society of Australia & New Zealand (CSANZ) dan juga Japanese Circulation Society (JCS). Terdapat sesi simposium bersama berbagai organisasi jantung dunia tersebut untuk berbagai pengalaman dalam pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr dr Isman Firdaus, SpJP (K), FIHA, FAsCC, FAPSIC, FESC, FSCAI mengatakan, pihaknya bangga, pada 2019 ini Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan AFCC.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu leader di bidang penanganan penyakit kardiovaskular. Selama empat hari digelar, acara AFCC ini akan diisi dengan beragam program ilmiah yang mencakup lokakarya, ceramah, debat, presentasi kasus, studi terbaru, simposium dan lainnya," jelasnya.

Menurut Isman, peserta akan menjalankan sesi interaktif dan mendapatkan pembaruan terbaru terkait penanganan penyakit jantung akut, gagal jantung, pencegahan, hipertensi, sindrom kardiometabolik, dan pembedahan.

"Selain itu juga ada elektrofisiologi, penyakit pembuluh darah, pencitraan kardiovaskular, intervensi, kardiologi pediatrik dan berinteraksi dengan kolega dari seluruh dunia," tutupnya.



Sumber: Investor Daily