Menkes Sebut 82% Keluarga Indonesia Tak Sehat

Menkes Sebut 82% Keluarga Indonesia Tak Sehat
Menteri Kesehatan Nila Moeloek (kedua kiri, topi hitam) didampingi Sekjen Kemkes Oscar Primadi (kiri) bersama pejabat eselon Kemkes lainnya senam bersama pada Healthies Fun Run 5 K di Kantor Kemkes, Jakarta, Minggu (6/10/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Dina Manafe)
Dina Manafe / WBP Minggu, 6 Oktober 2019 | 15:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hidup bersih dan sehat rupanya belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat banyak diderita masyarakat. Bahkan, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, sebagian besar atau 82 persen keluarga tidak sehat.

"Pendataan keluarga dengan 12 indikator sehat (menunjukkan) angka nasional baru 18 persen keluarga. Rendah sekali. Berarti 82 persen yang tidak sehat," kata Menkes usai kegiatan Healthies Fun Run 5 K di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Minggu (6/10/2019).

Sebuah keluarga dikatakan sehat apabila memenuhi 12 kategori sehat di antaranya keluarga punya jamban, ibu bersalin di fasilitas kesehatan, balita dipantau tumbuh kembangnya, imunisasi, dan wanita usia subur menggunakan KB.

Menurut Menkes, beberapa daerah menunjukkan indikator kesehatan keluarga yang tinggi dan cenderung meningkat. Hal ini menggambarkan masyarakat masih membutuhkan edukasi dan kampanye hidup sehat untuk mengubah perilaku mereka.

50% Pasien Asing di Malaysia Berasal dari Indonesia

Menkes mengatakan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia meningkat dan masuk dalam kategori atas terutama dari aspek kesehatan. Hal ini ditandai usia harapan hidup orang Indonesia yang meningkat dari 69,19 tahun (2016) menjadi 71,2 tahun (2018). Kondisi ini menunjukkan derajat kesehatan masyatakat juga membaik. Namun, kata Menkes, dari usia harapan hidup 71 tahun lebih itu, usia sehatnya hanya 62 tahun, yang artinya selama 8-9 tahun orang Indonesia hidup dengan sakit sakitan.

Menkes mengatakan, status kesehatan masyarakat masih memprihatinkan. Hal itu terlihat dari data BPJS Kesehatan yang menunjukkan penyakit tidak menular atau penyakit katastropik (berbiaya mahal) mendominasi dalam pelayanan JKN-KIS. Gagal ginjal, kanker, jantung, stroke, diabetes melitus dan hipertensi adalah sederetan penyakit yang menyedot sebagian besar anggaran BPJS Kesehatan. "Semua itu sebenarnya bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Misalnya hipertensi sedapat mungkin kita hindari. Caranya ya dengan pola hidup sehat. Kalau pun sudah hipertensi sedapat mungkin terkontrol sehingga tidak jantung," kata Menkes.

Usia Harapan Hidup Orang Indonesia 71,4 Tahun

Untuk tetap sehat, Menkes mengajak masyarakat terapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Germas adalah ajakan kepada masyarakat untuk berperilaku bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pola makan. Makan bukan sekadar untuk kenyang, tetapi juga terpenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Karenanya keberagaman makanan perlu diperhatikan. Dalam satu sajian piring, separohnya terdiri dari buah dan sayuran beragam jenis maupun warna. Separuhnya lagi makanan pokok dan lauk pauk.

Selain pola maka, aktivitas fisik atau olahraga penting. "Jalan kaki misalnya, murah, tanpa bayar. Saya sering melakukan itu karena kebetulan di dekat rumah ada taman. Saya sering kali jalan kaki dengan Pak Emil Salim," kata Menkes.

Selain itu, lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala minimal 6 bulan atau satu tahun sekali. Hal ini tak kalah penting untuk jaga kesehatan, tetapi paling sering diabaikan. Padahal kata Menkes, mengetahui status kesehatan itu penting untuk mencegah kondisi lebih buruk. Hipertensi dan diabetes melitus, misalnya, seringkali disebut sebagai silent killer, karena kedua penyakit ini merusak kesehatan tanpa kadang diketahui.

Faktor lainnya adalah lingkungan sehat. Namun kata Menkes lingkungan sehat dengan sendirinya tercipta apabila setiap individu sudah memiliki pola hidup bersih dan sehat.

Dalam rangka kampanye Germas, hari ini Kemkes menggelar "Healthies Fun Run 5 K" yang dihadiri seluruh perwakilan kementerian/lembaga. Menkes berharap Germas bisa diterapkan oleh semua kementerian lembaga.



Sumber: Suara Pembaruan