BPPT Temukan 10 Mikroba Kandidat Kuat Obat Malaria

BPPT Temukan 10 Mikroba Kandidat Kuat Obat Malaria
Ilustrasi nyamuk malaria. ( Foto: huffingtonpost )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 9 Oktober 2019 | 15:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah berhasil menemukan atau mengisolasi 20 mikroba asli Indonesia untuk dikembangkan menjadi kandidat obat malaria. Dari jumlah itu, 10 mikroba di antaranya menjadi kandidat kuat yang memiliki senyawa aktif antimalaria.

Baca Juga: Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria

Saat ini, kemampuan kina untuk mengobati malaria dikhawatirkan tidak lagi efektif seiring resistensinya atau semakin kebalnya nyamuk yang mendatangkan penyakit tersebut. Oleh karena itu, dalam lima tahun terakhir BPPT dibantu Jepang menggali potensi obat baru dari keanekaragaman hayati Indonesia berupa mikroba. Kerja sama tersebut dilakukan dalam science and technology research partnership for sustainable development program (Satreps).

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan mengatakan, saat ini bahan baku obat di Indonesia lebih dari 90 persennya didominasi impor. Bahkan, saat ini komitmen untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa di bidang bahan baku obat menjadi prioritas nasional.

Menurut Soni, dari 206 industri farmasi di Indonesia, sebagian besar hanya melakukan formulasi dari bahan baku obat yang diimpor dari luar negeri. Padahal, bisa jadi sumber bahan mentahnya berasal dari Indonesia. Dengan sentuhan pengembangan lanjutan farmasi sangat mungkin sumber bahan baku itu kembali ke Indonesia dengan harga yang lebih mahal.

Baca Juga: Mendagri Ajak Kepala Daerah Komitmen Eliminasi Malaria

"Dari program Satreps ini, Jepang hanya memberi dukungan dana selama lima tahun, ini tahun terakhir. Jadi butuh dukungan banyak pihak termasuk di dalamnya pendanaan agar terus berlanjut. Sayang kalau berhenti sampai di sini," kata Soni dalam simposium internasional sumber daya alam untuk pengembangan obat di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Soni mengatakan, perjalanan pengembangan obat ini masih sangat panjang sekitar 10 tahun hingga 15 tahun lagi sampai kandidat obat ini resmi menjadi obat dan melewati serangkaian uji praklinis dan klinis.

Di sisi lain, Presiden juga sudah mengeluarkan instruksi presiden terkait pengembangan percepatan farmasi di Indonesia. Dukungan anggaran untuk meneruskan penelitian ini pun sangat diperlukan. BPPT berharap Kementarian Riset Pendidikan dan Teknologi (Kemristekdikti) serta Kementerian Kesehatan (Kemkes) bisa mendukung pendanaan terhadap riset lanjutan obat malaria.

Selama lima tahun terakhir, Japan International Cooperation Agency (JICA) telah mendanai hampir Rp 30 miliar untuk penelitian obat malaria ini. Bantuan tersebut berupa peralatan, infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia.

Kepala Program Satreps BPPT, Danang Waluyo mengungkapkan, pencarian kandidat mikroba Actinomycetes Streptomyces dilakukan di lahan yang tidak tersentuh aktivitas manusia ataupun berhutan alami. Tim BPPT melakukan pencarian mikroba ke wilayah Jember, Jawa Timur (Jatim).

"Senyawa yang kita cari dari mikroba untuk bisa dilanjutkan menjadi obat harus melewati uji klinis dan praklinis. Hal ini untuk mengetahui efek samping dari kandidat obat yang dimaksud," ucap Danang.

Danang menambahkan, yang membedakan senyawa aktif BPPT dengan penelitian dari pihak lainnya untuk mencari obat antimalaria adalah sumber senyawanya.

"BPPT mendapatkan senyawa alami dari mikroba sedangkan yang lainnya mengembangkan obat anti malaria dengan senyawa sintesis atau senyawa buatan manusia," tandas Danang.



Sumber: Suara Pembaruan