Penderita Penyakit Katastropik Tambah Beban Pembayaran BPJS Kesehatan

Penderita Penyakit Katastropik Tambah Beban Pembayaran BPJS Kesehatan
Seminar dan Bedah Buku BPJS Kesehatan Keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional di Gedung Faculty Club Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat yang di moderator Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan Primus Dorimulu, Kamis, 10 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / CAH Kamis, 10 Oktober 2019 | 13:40 WIB

 

Depok, Beritasatu.com - Jumlah penderita penyakit katastropik yang bertambah setiap tahunnya menyebabkan beban pembayaran BPJS Kesehatan juga bertambah setiap tahunnya.

Deputi Direksi Bidang Riset dan Pengembangan BPJS Kesehatan Benjamin Saut mengungkapkan, jumlah penderita penyakit kronis makin meningkat. Terjadi peningkatan biaya pelayanan kesehatan terutama untuk penyakit katastropik setiap tahunnya.

"Jumlah biaya katastropik pembebanan Januari sampai dengan Desember 2018 sebesar Rp 20,42 triliun dan Januari sampai dengan Mei 2018 sebesar Rp 20 triliun," ujar Benjamin dalam Seminar dan Bedah Buku Keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional dalam Sistem Jaminan Nasional di Gedung Faculty Club, Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (10/10/2019).

Baca JugaBPJS Kesehatan Biayai 134 Juta Penduduk Miskin

Data penderita penyakit jantung misalnya, pada tahun 2017 jumlah kasus sebanyak 10.346.112 membutuhkan biaya Rp 9.276.267.344.082 atau sebesar 50 persen. Sedangkan pada tahun 2018, jumlah kasus pada tahun 2018 menjadi 12.596.094 dengan biaya Rp 10.545. 485.639.809 atau sebesar 52 persen. Terdapat kenaikan dua persen dari tahun sebelumnya.

Sedangkan untuk penyakit gagal ginjal diketahui jumlah kasus yang terjadi sebanyak 1.705.624 dengan biaya Rp 2.339. 685.661.564 atau 13 persen pada tahun 2017. Jumlah ini juga mengalami kenaikan pada tahun 2018 yakni terjadi jumlah kasus sebanyak 1.784.962 dengan biaya Rp 2.395.347.020.362.

"Setiap kunjungan pasien gagal ginjal membutuhkan biaya rata-rata Rp 1,35 juta per kunjungan. Tiap bulan minimal delapan kali cuci darah. Proteksi biaya minimal Rp 11 juta per orang per bulan belum termasuk obatnya," tambah Benjamin.

 



Sumber: Suara Pembaruan