Literasi Gizi Masih Rendah, Pangan Protein Hewani Terabaikan

Literasi Gizi Masih Rendah, Pangan Protein Hewani Terabaikan
Pakar Dietisien, Geetruida D. Rory berharap orang tua juga perlu cerdas dalam mengolah menu makanan yang sehat juga praktis saat acara MilkVersation, kampanye edukasi yang diadakan Frisian Flag Indonesia (FFI) di Jakarta, Senin (4/11/2019). ( Foto: Frisian Flag Indonesia / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 5 November 2019 | 22:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Ragam pilihan makanan yang kurang bergizi serta literasi gizi yang masih rendah memengaruhi ketidakseimbangan kualitas asupan zat gizi anak sehari-hari. Ketidaktahuan membuat pangan protein hewani yang juga penting kerap terabaikan.

“Pada anak, peran orang tua memiliki peran krusial, dalam menyusun menu padat gizi, guna mendukung pertumbuhan maksimal, salah satunya dengan memastikan pemenuhan kebutuhan pangan hewani,” ujar Pakar Dietisien Geetruida D. Rory, dalam MilkVersation – satu kegiatan edukasi yang diadakan Frisian Flag Indonesia (FFI) di Jakarta, Senin (4/11).

Menurut Geetruida, menu-menu praktis yang padat gizi bisa dimodifikasi dengan bahan dasar pangan lokal yang dipadukan dengan pangan hewani berkualitas seperti susu, dapat disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

“Contohnya klapertart dengan bahan dasar singkong/ubi. Dipadukan dengan susu, keju, kismis dan almond, 1 porsi camilan sehat ini mengandung energi 260 kcal dan protein 4-5 gram – menjadikannya camilan lezat dengan mutu gizi lebih tinggi,” paparnya.

Selain mengandung asam amino yang lengkap baik jenis maupun jumlahnya, pangan hewani juga mengandung banyak zat gizi penting, seperti vitamin B12, vitamin D, asam lemak omega-3, zat besi, kalsium dan seng. Manfaat pangan hewani lebih maksimal, ketika bahan pangan tersebut diolah dengan tepat dan dikonsumsi dengan proporsional sesuai kebutuhan gizi masing-masing individu.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia pada 2017 masih tertinggal jauh dari negara-negara maju. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, Indonesia baru mencapai 8 persen, sementara Malaysia mencapai 30 persen, Thailand 24 persen, dan Filipina mencapai 21 persen. Kondisi ini dapat berimplikasi pada kualitas gizi para penerus bangsa.

Asam Amino

Sementara itu, Pakar Gizi Universitas Indonesia (UI) Saptawati Bardosono mengatakan peran asam amino lengkap yang terkandung dalam protein hewani juga kerap terlewatkan sebagai unsur pertumbuhan dan perkembangan anak secara maksimal.

“Asam amino merupakan senyawa organik dari sumber protein, yang terurai ketika masuk ke dalam tubuh. Pada protein hewani, asam amino yang terkandung adalah asam amino esensial lengkap, yang berperan penting pada periode masa pertumbuhan, maupun fase kehidupan berikutnya,” ujar Pakar Gizi Saptawati Bardosono.

Saptawati menambahkan produk susu sapi menjadi salah satu sumber protein hewani baik, bukan hanya karena kandungan asam amino lengkapnya, tapi juga formula cairnya yang mudah diserap tubuh. Terbukti, Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS) menempatkan susu sapi sebagai sumber protein terbaik.

“Upaya FFI dalam membantu peningkatan asupan protein hewani masyarakat Indonesia, juga diwujudkan melalui kehadiran rangkaian produk susu berkualitas terjangkau, guna melengkapi kebutuhan gizi harian keluarga Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi yang diusung perusahaan yaitu ‘Nourishing by Nature’,” ujar Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Menurut Andrew, rendahnya tingkat konsumsi protein hewani di tengah masyarakat Indonesia berdampak bukan hanya pada terhambatnya pertumbuhan individu, tapi juga dapat berakibat pada rendahnya kualitas generasi penerus bangsa.



Sumber: Suara Pembaruan