Inovasi Kesehatan Dalam Negeri Kurangi Ketergantungan Impor

Inovasi Kesehatan Dalam Negeri Kurangi Ketergantungan Impor
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menyerahkan penghargaan kepada pemenang IndoHCF Inovation Award III tahun 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. IndoHCF )
Dina Manafe / FER Selasa, 12 November 2019 | 22:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pesatnya perkembangan inovasi bidang kesehatan di dalam negeri diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Sampai saat ini, sekitar 90 persen bahan baku obat dan alat kesehatan di Indonesia masih berasal dari impor.

Baca Juga: Evergen Dorong Kemandirian Bahan Baku Farmasi

Pengurangan produk impor, diharapkan layanan kesehatan kepada masyarakat lebih mudah terjangkau dan murah. Selain itu, sejalan dengan harapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar Indonesia lebih mandiri termasuk dalam produksi obat dan alat kesehatan.

Ketua Umum Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF), dr Supriyantoro, mengatakan, digitalisasi sudah masuk ke seluruh lini kehidupan masyarakat. Tentunya untuk sektor pelayanan kesehatan yang lebih baik diperlukan berbagai macam inovasi kesehatan dengan suntikan teknologi terbaik. Dibutuhkan inovasi teknologi untuk menunjang kualitas pelayanan kesehatan.

"Pesatnya perkembangan inovasi di bidang kesehatan akan mengurangi ketergantuan Indonesia terhadap produk kesehatan asal luar negeri, mulai dari peralatan di rumah sakit hingga obat-obatan yang dikonsumsi masyarakat,” kata Supriyantoro dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Baca Juga: Masyarakat Mampu Jadi Parasit BPJS Kesehatan

IndoHCF, lanjut Supriyantoro, berkomitmen untuk terus mendorong inovasi layanan kesehatan di dalam negeri. Salah satunya dengan menyelenggarakan IndoHCF Innovation Awards 2019. Ajang penghargaan ini diadakan sebagai bagian sumbangsih IndoHCF untuk ikut mendukung perkembangan dunia kesehatan di Indonesia, khususnya inovasi anak bangsa. Sejumlah inovasi yang muncul dapat mempermudah masyarakat mendapatkan informasi maupun akses layanan kesehatan dengan mudah dan cepat di seluruh pelosok negeri. Supriyanto juga berharap, IndoHCF Innovation Awards lebih mengembangkan dan memperbesar gaung hasil inovasi yang telah dilakukan.

"Mudah-mudahan di tahun-tahun yang akan datang semakin banyak perusahaan atau instansi lain yang membantu pengembangan lebih lanjut dari sisi pendanaan sehingga inovasi ini semakin berkembang dan memberi manfaat besar bagi dunia kesehatan Indonesia," tandas Supriyantoro.

Baca Juga: Bappenas Dorong Bahan Baku Obat Diproduksi Dalam Negeri

IndoHCF Innovation Awards diharapkan semakin memacu para SDM sektor kesehatan untuk menciptakan berbagai inovasi kesehatan sehingga kualitas kesehatan masyarakat Indonesia semakin meningkat.

Adapun IndoHCF Innovation Awards III tahun 2019 diberikan kepada empat kategori pemenang. Khusus kategori Inovasi Alat Kesehatan, terbaik pertama dimenangkan oleh Departemen Medik Orthopaedi dan Traumatologi RSCM-FKUI Jakarta Pusat dengan penggunaan Fiksasi Pelvis Modifikasi C-Clamp Sistem UI-CM dalam meningkatkan layanan klinis.

Pemenang kedua oleh Gamma Allergen dan Gamma Chamber, sebagai solusi penyediaan alat diagnostik uji tempel di Indonesia dari Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Sedangkan pemenang ketiga adalah Sardjito Vac (Vacuum Assisted Closure) dari RSUP Dr Sardjito Kota Yogyakarta.

Sementara penghargaan Gold Award ditempati oleh Sigap (sistem penanggulangan gawat darurat publik) PSC 119 Bantul, Yogyakarta dan PSC 119 Kota Cirebon "Sregep" sistem respon emergency yang guyub melibatkan semua elemen melalui pendekatan keluarga.



Sumber: Suara Pembaruan