Usia Penderita Diabetes Makin Muda, Deteksi Dini Diperluas ke Sekolah dan Kampus
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Usia Penderita Diabetes Makin Muda, Deteksi Dini Diperluas ke Sekolah dan Kampus

Jumat, 15 November 2019 | 12:00 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Gaya hidup yang semakin sedentari atau kurang gerak, makanan serba instan, dan tingkat stres tinggi menempatkan warga Ibu Kota makin berisiko tinggi menderita diabetes. Usia penderita penyakit kencing manis ini semakin muda saja. Untuk mengendalikannya, pemerintah memperluas cakupan deteksi dini melalui pos pembinaan terpadu (posbindu) termasuk di DKI Jakarta.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Dwi Octavia mengungkapkan, diabetes banyak ditemukan pada usia 30 tahun. Itu artinya sebelum positif diabetes, sebetulnya mereka sudah memiliki faktor risiko sejak usia yang lebih muda. Dari 2,5 juta penduduk yang sudah dilakukan skrining atau deteksi dini dan memiliki potensi diabetes, 30% di antaranya disebabkan obesitas atau kegemukan, termasuk obesitas sentral atau perut buncit.

“Ini menunjukkan pola hidup masyarakat Ibu Kota makin sedentari, malas bergerak, dan semuanya serba mudah didapat. Ditambah lagi perokok yang prevalensinya 6% dari populasi, kurang makan buah dan sayur, dan lebih-lebih lagi sekarang semua makanan serba instan. Belum lagi stres karena pekerjaan, perjalanan, dan lain-lain,” kata Dwi Octavia usai menyosialisasikan mengenai diabetes kepada mahasiswa Universitas Yarsi Cempaka Putih, Jakarta, dalam rangka Hari Diabetes Sedunia 2019, Kamis (14/11/2019).

Menanggulangi persoalan diabetes ini, Pemda DKI Jakarta menjemput bola dengan melakukan pemeriksaan deteksi dini di sekolah SMA dan kampus. Menurut Dwi, pihaknya mulai fokus ke usia dewasa muda untuk menemukan lebih banyak kasus di masyarakat. Jika ditemukan faktor risikonya lebih dini, segera dilakukan pencegahan agar tidak sampai menjadi diabetes atau makin parah.

Selama ini, lanjut Dwi, kegiatan posbindu hanya menjangkau masyarakat komunitas atau warga pemukiman dan institusi pemerintah. Namun itu saja tidak cukup karena ternyata diabetes banyak menyerang usia muda, sehingga edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan deteksi dini harus lebih masif di kelompok anak muda.

Posbindu merupakan kegiatan monitoring dan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Kegiatan ini bagian dari program Cities Changing Diabetes (CCD) yang dipelopori oleh Dinkes DKI Jakarta dan Novo Nordisk Indonesia. Kegiatan ini dikembangkan karena hampir semua faktor risiko PTM tidak memberikan gejala pada penderitanya, termasuk diabetes yang kerap disebut silent killer karena tidak disadari.

“Posbindu akan mendorong masyarakat agar secara rutin dan periodik melakukan pemeriksaan rutin mulai dari usia dewasa muda 15 tahun ke atas,” kata Dwi.

Pemeriksaan di posbindu tidak dipungut biaya. Pemeriksaan ini mencakup lingkar perut, tekanan darah dan tinggi badan untuk menentukan indeks masa tubuh. Semua faktor risiko juga ditanyakan, seperti apakah merokok, pola makan dan aktivitas fisik, dan pola istirahat. Setelah semua perilaku ditanyakan baru dilakukan pemeriksaan darah secara cepat.

Dokter Spesialis dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Rachmad Wishnu Hidayat mengatakan, gaya hidup sangat menentukan perkembangan diabetes. Mayoritas masyarakat perkotaan saat ini sangat kurang bergerak, ditambah mengonsumsi makanan tinggi kalori sehingga meningkatkan risiko. Padahal, menurutnya, aktivitas rutin minimal 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu sangat efektif mencegah diabetes dan mengelola diabetes bagi yang sudah mengalaminya.

Takut Diperiksa

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Dicky Levenus Tahapary mengatakan, rendahnya kesadaran akan deteksi dini adalah penyebab utama orang enggan melakukan pemeriksaan medis rutin. Ini khususnya terjadi di kota perkotaan seperti Jakarta, meskipun faktanya fasilitas kesehatan primer sangat mudah diakses. Kebanyakan orang takut mengetahui bahwa mereka menderita penyakit tertentu dalam hasil pemeriksaan kesehatan.

Buktinya, 52% pasien dengan diabetes sudah memiliki komplikasi ketika didiagnosis. Komplikasi diabetes berimplikasi tidak hanya pada kualitas hidup pasien, tetapi juga menambah beban biaya kesehatan. Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan per pasien per tahun adalah Rp 5,7 juta tanpa komplikasi, dan Rp 14 juta jika sudah memiliki komplikasi.

Total biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiayai pasien diabetes mencapai triliun rupiah. Tantangan lain dalam pengelolaan diabetes adalah jumlah dokter dan dokter spesialis di fasilitas kesehatan yang tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pasien.

International Diabetes Federation Atlas pada tahun 2017 mencatat, Indonesia adalah rumah bagi 10,3 juta orang yang hidup dengan diabetes. Jumlahnya diperkirakan meningkat sebanyak 60% pada tahun 2045 menjadi 16,7 juta jiwa, dan menempati peringkat ke-7 di dunia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi diabetes meningkat dengan sangat cepat. Sebelumnya di 2013 angka prevelensi diabetes penduduk umur 15 tahun ke atas baru 6,9%, tetapi kemudian meningkat 8,5% di 2018.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Investigasi Pelayanan BPJS, Presiden Sidak RSUD Abdul Moeloek Lampung

Di RSUD itu, Kepala Negara mengunjungi instalasi rawat jalan dan bertanya langsung kepada sejumlah pasien.

KESEHATAN | 15 November 2019

The Habibie Center Sampaikan 7 Rekomendasi Penanggulangan Stunting

Tingkat prevalensi stunting sebesar 30,8 persen Indonesia (Riskesdas 2018) menunjukkan perlunya lebih banyak upaya efektif yang dilakukan.

KESEHATAN | 14 November 2019

Tunjuk Good Doctor, Kemkes Bangun Ekosistem Digital Kesehatan

Melalui kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung SehatPedia, aplikasi yang dirintis oleh Kemkes.

KESEHATAN | 14 November 2019

DJSN Pastikan Orang Miskin Tetap Ditanggung Pemerintah

DJSN memastikan kenaikan iuran JKN-KIS tidak akan memberatkan orang miskin.

KESEHATAN | 13 November 2019

BPJS Kesehatan Pastikan Layanan Makin Baik

Kenaikan iuran JKN-KIS untuk mengatasi defisit yang terus membengkak setiap tahun.

KESEHATAN | 13 November 2019

Metode Sunat Jaman Now Diminati Masyarakat

Sunat dari sudut pandang kesehatan dinilai sangat bermanfaat.

KESEHATAN | 13 November 2019

Pemprov Jabar dan Danone Indonesia Kerja Sama Cegah Stunting

Kerja sama ini sebagai tindaklanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pemprov Jabar dan Danone Indonesia pada hari Selasa (12/11/2019).

KESEHATAN | 13 November 2019

Inovasi Kesehatan Dalam Negeri Kurangi Ketergantungan Impor

Sekitar 90 persen bahan baku obat dan alat kesehatan di Indonesia masih berasal dari impor.

KESEHATAN | 12 November 2019

Menkes Apresiasi Prestasi RSUD Tulungagung Jadi RS Terbaik Dunia

Menkes mengapresiasi dan mengucapkan selamat kepada Direktur RSUD Tulungagung Supriyanto yang berhasil membawa RSUD Tulungagung menjadi RS terbaik dunia.

KESEHATAN | 12 November 2019

Pneumonia Membunuh Seorang Balita Setiap 39 Detik

Penyakit pneumonia disebutkan membunuh lebih dari 800.000 bayi dan anak-anak pada tahun lalu.

KESEHATAN | 12 November 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS