Hati-hati, Kacamata Ion Belum Terbukti Medis

Hati-hati, Kacamata Ion Belum Terbukti Medis
Dokter Spesialis Mata Gitalisa Andayani (kedua dari kiri) dan Ketua Gabungan Pengusaha Optik Indonesia Alexander F. Kurnia (kanan) berdiskusi soal kesehatan mata dalam rangka 90 Tahun Optik Tunggal di Jakarta, Senin (18/11/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Unggul Wirawan )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 18 November 2019 | 22:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Kesehatan mata kerap menjadi isu penting saat usia bertambah. Saat upaya pengobatan mahal dan menyulitkan, masyarakat pun tergiur solusi instan pengobatan mata seperti fenomena kacamata ion. Sementara klaim kesembuhan dari perangkat ini tidak dapat dibuktikan secara medis.

“Penyakit mata itu penyebabnya macam-macam. Tapi ada sebab organiknya. Secara logika, kacamata ion tidak akan mampu mengubah anatomi, itu struktural. Jadi tidak ada laporan ilmiahnya yang kuat. Kelainan anatomi itu harus dikoreksi lensa atau dibedah seperti katarak. Meskipun dengan gelombang elektromagnetik, tidak akan membantu penyembuhan,” papar Dokter Spesialis Mata Gitalisa Andayani saat media gathering HUT 90 Tahun Optik Tunggal di Jakarta, Senin (18/11).

Gita menjelaskan, pada kasus penyakit glaukoma, kacamata ion mengklaim penyembuhan dengan cara membuat aliran darah lebih baik. Tapi sesungguhnya, glaukoma disebabkan saluran pembuangan mata mampet. Untuk pengidap diabetes, walaupun dibantu kacamata ion, jika kadar gula tinggi tidak diobati, penyakit tu akan tetap tinggal.

“Tapi saya berusaha objektif dalam memandang suatu produk. Mungkin saja kacamata itu mengurangi Ultra Violet. Tapi itu pun belum dibuktikan. Atau mungkin juga produk itu bisa menapis cahaya-cahaya, tapi levelnya tidak signifikan. Semua itu harus dibuktikan dengan penelitian,” kata Gita yang juga dosen FKUI ini.

Saat ini, banyak bermunculan situs internet dan link market place yang menjual kacamata ion secara daring. Secara percaya diri, penjual mengklaim kacamata ion sebagai alat kesehatan mata yang mampu mengeluarkan gelombang ion dan sinar infra merah gelombang jauh yang bermanfaat bagi kesehatan mata, apalagi jika dipakai selama 8 jam sehari.

Kondisi medis yang diklaim dapat diobati dengan kacamata ion adalah kelainan refraksi (mata minus atau plus), silinder, mata kering, buta warna, diabetik retinopati, glaukoma, hingga katarak.

Bantahan serupa juga dikatakan, Alexander F. Kurniawan, chairman of Optik Tunggal juga menyayangkan terjadinya fenomena kacamata ion. Dia mengajak masyarakat lebih bijak lagi dalam menghadapi penyakit mata.

Alex mengatakan jika terjadi katarak, glaukoma, diabetik retinopati hanya bisa diobati melalui tindakan medis dan obat-obatan. Namun kelainan mata seperti minus atau plus, harus memakai kacamata, soft lens atau ortho-K maupun tindakan lasik.

“Tidak ada satu fakta pun yang bisa menegaskan kacamata ion ini bisa menyembuhkan kondisi mata minus, plus, atau silinder. Saya bisa katakan, tidak ada efek sama sekali dari kacamata ion tersebut. Jadi sebelum memperbaiki kelainan refleksi mata, seseorang perlu diperiksa. Optik bisa menjadi fasilitas kesehatan pertama yang bisa dirujuk gratis,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan