Anak Stunting Berisiko Tinggi Terkena Penyakit Tidak Menular

Anak Stunting Berisiko Tinggi Terkena Penyakit Tidak Menular
Ketua Umum PBI IDI dr Daeng Faqih menandatangani kesepakatan dengan masyarakat untuk bersama sama menanggulangi masalah balita pendek atau stunting di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (24/11/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Dina Manafe / FER Minggu, 24 November 2019 | 18:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bekerja sama dengan KlikDokter mengampanyekan pentingnya menerapkan pola hidup sehat, termasuk masalah balita pendek atau stunting di kawasan car free day (CFD) Sudirman-Thamrin, Jakarta, Minggu (24/11/2019). Kampanye ini merupakan bagian dari peringatan hari jadi IDI ke-69 tahun sekaligus Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-111.

Mendagri Tegaskan Masalah Stunting Harus Segera Diselesaikan

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng Faqih, mengatakan, pihaknya fokus kampanye stunting karena persoalan ini sampai sekarang belum berhasil diatasi dan menjadi pekerjaan rumah bersama. Stunting, menurut Daeng, merupakan ancaman bagi bangsa karena kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.

"Dalam jangka panjang, stunting berdampak negatif untuk kecerdasan anak dan juga meingkatkan risiko anak untuk terkena penyakit tidak menular,” kata Daeng.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada tahun 2017, yaitu 36,4 persen. Angka ini menurut Riskesdas 2018 turun menjadi 30,8 persen. Di tahun 2019, Kementerian Kesehatan (Kemkes) melaporkan angka ini turun lagi menjadi 27,67 persen menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI).

"Meski angkanya menurun, namun prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan," tandas Daeng.

Sebanyak 32,9 Persen Balita di Kabupaten Bogor Alami Stunting

Kepala KlikDokter, Mia Argianti, mengatakan, satu dari 3 anak di bawah 5 tahun (balita) mengalami stunting atau gagal tumbuh karena kurang protein atau kurang gizi. Pada 2018 prevalensi stunting mencapai 30,8 persen, artinya 1 dari 3 balita (1/3 balita) mengalami stunting atau kerdil. Data Kemkes mencatat prevalensi stunting tersebut terdiri atas balita yang memiliki badan sangat pendek 11,5 persen dengan tinggi badan pendek mencapai 19,3 persen.

"Karena itu masalah stunting di Indonesia ini tidak dapat dianggap sepele. Betul-betul membutuhkan perhatian khusus, untuk itulah KlikDokter merasa perlu ikut serta dalam menurunkan angka stunting ini, salah satunya dengan menggalakkan komunikasi informasi dan edukasi,” kata Mia.

Mia mengatakan, pihaknya sepakat bekerja sama IDI untuk menanggulangi stunting, penyakit tidak menular, dan kesehatan reproduksi remaja dalam upaya mendukung pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing sebagaimana misi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia berharap, pendekatan dengan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) yang baik dan tepat semakin melekat di hati masyarakat. Promosi dan prevensi dalam kesehatan semakin dioptimalkan, sehingga di masa depan Indonesia dapat mencapai generasi sehat.

Menko PMK Percepat Penurunan Stunting dan Kemiskinan

Selain stunting, IDI juga menyosialisasikan kesehatan reproduksi remaja. Menurut Daeng Faqih, remaja adalah fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang menjadi pintu masuk dan ujung tombak perubahan paradigma kesehatan.

Pada masa remaja, pengetahuan tentang kesehatan penting untuk diketahui untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Salah satu pengetahuan kesehatan yang penting di usia remaja adalah kesehatan reproduksi karena dapat memicu terjadinya penyakit seksual menular, kehamilan di usia muda, dan kanker mulut rahim atau kanker serviks.

Memulai hidup sehat tidaklah sulit, salah satunya juga dimulai dengan hal sederhana, namun berdampak besar, yaitu konsisten meningkatkan kesadaran dan kemauan masyarakat akan pola hidup bersih dan sehat. Mulai dengan rutin wajib cuci tangan yang baik dan benar ini saja sudah hampir menyumbang perbaikan kesehatan 90 persen karena dapat mencegah penyebaran penyakit.

Cuci tangan juga merupakan salah satu cara mencegah stunting, dengan mencegah terjadinya infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan pada anak.



Sumber: Suara Pembaruan