Masih Tinggi, Jumlah ODHA yang Putus Pakai Obat ARV

Masih Tinggi, Jumlah ODHA yang Putus Pakai Obat ARV
Kampanye anti-HIV/AIDS. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / IDS Kamis, 28 November 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengakui angka putus pakai obat antiretroviral (ARV) untuk orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) masih tinggi. Secara nasional, saat ini terdapat 23% dari ODHA yang pernah minum obat berhenti di tengah jalan karena berbagai alasan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular Langsung Ditjen P2P Kemkes, Wiendra Waworuntu, mengatakan, belum semua ODHA mendapatkan terapi ARV. Hanya 33% yang rutin menerima pengobatan. Hingga Juni 2019, sebanyak 115.750 ODHA sedang menjalani pengobatan. Sebanyak 23% di antaranya telah berhenti atau putus pakai.

Selain faktor kepatuhan minum obat, akses ODHA terhadap ARV juga belum optimal. Wiendra mengatakan, akses ODHA ke ARV baru 81% dari total ODHA. Ini dikarenakan ketersediaan obat tidak selalu ada di semua fasilitas kesehatan (faskes), tidak seperti obat Tuberkulosis (TB) yang dengan mudah didapatkan di setiap faskes. Menurut Wiendra, pengobatan ARV relatif masih baru dimulai sejak 2005 dan tingginya stigma pada ODHA menyebabkan mereka tidak serta merta bisa akses obat ARV di faskes.

“Angka yang drop out dan tidak mengakses memang cukup tinggi, dan kami akui bahwa harus ditingkatkan bukan hanya layanan tes atau pemeriksaan tetapi juga perawatannya. Ini yang sedang kami akselerasi dalam waktu 2-3 bulan ini, sehingga harapannya di tahun 2020 angkanya sudah sedikit berubah,” kata Wiendra di Jakarta, Rabu (27/11/2019).

Ia mengatakan, sejauh ini pemerintah menjamin ketersediaan obat ARV sesuai kebutuhan secara nasional. Isu mengenai stok obat ARV habis, kata dia, tidak benar. Setiap tahun pihaknya menyediakan obat hingga bulan Januari-Februari di tahun berikutnya. Wiendra juga mengatakan, tidak ada lagi obat kedaluwarsa di faskes sebagaimana kabar yang beredar selama ini. Mendekati hari kedaluwarsa, Kemkes menariknya dari faskes.

“Tidak ada obat kedaluwarsa di layanan sampai hari ini. Semua sudah kami tarik. Bahkan sejak 6 bulan jelang kedaluwarsa kami sudah ingatkan faskes,” kata Wiendra.

Untuk mengatasi persoalan akses pengobatan ARV ini, lanjut Wiendra, pihaknya akan melakukan beberapa langkah. Di antaranya, memberikan umpan balik secara berjenjang, memperkuat implementasi kebijakan test and treat, melaksanakan standar pelayanan minimal di daerah, dan menjamin logistik pengobatan baik obat ARV, non-ARV maupun bahan habis pakai melalui APBN, APBD serta dana luar yang tidak mengikat sesuai ketentuan yang berlaku.

Wiendra mengatakan, jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2019 sebanyak 349.882 atau 60,7% dari estimasi ODHA tahun 2016 sebanyak 640.443 orang. Sementara kasus AIDS yang dilaporkan sejak 2005 sampai tahun 2019 sebanyak 117.064 orang, di mana jumlah kasusnya relatif stabil setiap tahun. Di 2019 saja mulai April sampai Juni, dilaporkan terdapat 11.519 kasus HIV di mana sebagian besar pada kelompok umur 25-49 tahun atau 71,1%.



Sumber: Suara Pembaruan