Stok Obat ARV untuk ODHA Kian Menipis

Stok Obat ARV untuk ODHA Kian Menipis
Kampanye anti-HIV/AIDS. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / IDS Senin, 2 Desember 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Obat Antiretroviral (ARV) untuk orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) semakin menipis. Dikhawatirkan untuk satu dua bulan ke depan para ODHA akan kesulitan mengakses obat ini. Pemerintah diminta untuk segera membeli obat tersebut guna mencegah resistensi obat, kematian, dan penularan yang tinggi HIV/AIDS.

Stok obat di ambang kekurangan ini menjadi salah satu tuntutan ribuan ODHA Indonesia pada momentum Hari AIDS Sedunia yang diperingati Minggu (1/12).

Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardhana mengatakan, dilihat dari data stok ARV yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemkes), stok beberapa jenis obat ARV sudah menunjukkan kondisi merah yang artinya, dalam jangka waktu 1 atau 2 bulan ke depan stok untuk ODHA akan habis. Para ODHA akan menghadapi kesulitan dalam mengakses obat ARV karena stok obat habis. Aditya menilai respons pemerintah terkait pengadaan obat ARV ini masih kurang. Padahal dananya sudah tersedia dan bahkan beberapa obat sudah tercantum dalam katalog elektronik (e-katalog).

“Kemkes sebenarnya sudah punya dana di 2019 ini kira kira Rp 600 miliar untuk kebutuhan ARV 1,2 juta botol, mestinya segera dieksekusi. Jangan ditunda-tunda lagi kalau kita ingin penyakit ini benar-benar bisa ditanggulangi,” kata Aditya kepada SP, Senin (2/12/2019).

Aditya menjelaskan, stok ARV nasional per tanggal 22 November 2019 menurut data Kemkes untuk Tenovofir, Lamivudin, Zidovudine (TLE) dengan jumlah pasien yang dalam pengobatan ARV jenis ini sebanyak 48.981 ODHA hanya tersisa 290.908 botol. Apabila dikalkulasikan, stok tersebut hanya akan cukup untuk konsumsi 5,9 bulan ke depan. Padahal idealnya, stok kecukupan ARV dikatakan dalam batas aman apabila dapat menyuplai kebutuhan selama sembilan bulan. Pasalnya beberapa obat ARV masih diimpor, sehingga memerlukan waktu yang cukup untuk didistribusikan kepada pasien.

Status merah tidak hanya ARV jenis TLE. Stok obat lain seperti Abacavir 300mg, Efavirenz 200mg, Liponavir/Ritonavir, Tenofovir 300mg dan Zidovudine Emtricitabine tidak berada dalam batas aman. Yang terendah adalah obat ARV dari jenis Tenofovir 300mg yang tersisa stok untuk 2,5 bulan dan dikonsumsi oleh 29.131 pasien. Obat ARV jenis kombinasi Tenofovir Emtricitabine yang lebih parah lagi hanya dapat bertahan selama 1,5 bulan untuk 5.238 pasien.

“Dapat dipastikan, jika pengadaan obat tidak segera dilakukan maka mulai dari bulan Januari 2020 ribuan ODHA akan mengalami putus obat,” kata Aditya.

Putus pengobatan ARV bagi ODHA, menurut Aditya, akan memperburuk tingkat kesehatannya bahkan kematian. Bila ODHA tersebut melakukan kegiatan beresiko maka dia akan mudah menularkan HIV kepada orang lain. Para ODHA juga bisa mengalami resistensi obat lini pertama tersebut. Jika terjadi resistensi, obat-obatan tersebut tidak lagi efektif mengendalikan penyakitnya.

Dalam kondisi ini, ODHA harus berganti ke ARV lini 2. Namun persoalannya, harga obat ini jauh lebih mahal bisa 10 kali lipat dari lini 1. Selain itu, subsidi pemerintah untuk ARV lini 2 ini terbatas, sehingga dipastikan mereka yang putus lini 1 akibat stok habis tidak kebagian.

Angka Putus
Sebelumnya Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular Langsung Ditjen P2P Kemkes, Wiendra Waworuntu, mengakui mengakui angka putus pakai ARV masih tinggi, sekitar 23% dari ODHA yang minum obat. Menurut Wiendra masih banyak ODHA yang pengobatannya terhenti karena banyak faktor. Salah satunya akses terhadap pengobatan masih rendah. Namun ia menegaskan, bukan karena stok obat habis. Tidak benar selama ini stok obat habis.

Wiendra menambahkan, belum semua ODHA mendapatkan terapi ARV. Hanya 33% yang rutin menerima pengobatan. Hingga Juni 2019 sebanyak 115.750 ODHA yang sedang menjalani pengobatan. Sebanyak 23% di antaranya telah berhenti atau putus pakai.

Selain faktor kepatuhan minum obat, akses ODHA terhadap ARV juga belum optimal. Baru 81% dari total ODHA yang akses ke ARV. Ini dikarenakan ketersediaan obat tidak selalu ada di semua fasilitas kesehatan. Tidak seperti obat Tuberkulosis (TB) yang dengan mudah didapatkan di setiap fasilitas kesehatan. Menurut Wiendra, pengobatan ARV relatif masih baru dimulai sejak 2005 dan tingginya stigma menyebabkan pada ODHA tidak serta merta bisa akses obat ARV di fasilitas kesehatan.

Untuk mengatasi persoalan ini, lanjut Wiendra, pihaknya akan melakukan beberapa langkah. Di antaranya memberikan umpan balik secara berjenjang, memperkuat implementasi kebijakan test and treat, melaksanakan standar pelayanan minimal di daerah, dan menjamin logistik pengobatan baik obat ARV, non ARV maupun bahan habis pakai melalui APBN, APBD serta dana luar yang tidak mengikat sesuai ketentuan yang berlaku.

Wiendra mengatakan, jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2019 sebanyak 349.882 atau 60,7% dari estimasi ODHA tahun 2016 sebanyak 640.443 orang. Sementara kasus AIDS yang dilaporkan sejak 2005 sampai tahun 2019 sebanyak 117.064 orang, di mana jumlah kasusnya relatif stabil setiap tahun. Di 2019 saja mulai April sampai Juni dilaporkan ada 11.519 kasus HIV di mana sebagian besar pada kelompok umur 25-49 tahun atau 71,1%.

Menurut Aditya, ini sebuah pertanda yang buruk sebab kondisi kematian akibat AIDS di Indonesia bisa disejajarkan dengan angka kematian akibat AIDS di beberapa negara di Afrika yaitu Uganda, South Africa dan Kenya dimana epidemi AIDS ini sudah dalam tataran meluas di kelompok masyarakat umum. Indonesia sudah memasuki fase darurat AIDS.



Sumber: Suara Pembaruan