Pascabanjir, Pemda Diimbau Waspadai Potensi KLB Leptospirosis

Pascabanjir, Pemda Diimbau Waspadai Potensi KLB Leptospirosis
Petugas pemadam kebakaran mengevakuasi warga yang menjadi korban banjir di Jalan Samanhudi, Sawah Besar, Jakarta, Kamis 2 Januari 2020. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / IDS Senin, 6 Januari 2020 | 15:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Intensitas hujan yang tinggi dan potensi banjir di berbagai wilayah berdampak pada masalah kesehatan. Salah satu yang dikhawatirkan adalah meningkatnya potensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit leptospirosis. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengeluarkan surat edaran mengimbau seluruh kepala daerah melalui kepala dinas tingkat provinsi sampai kabupaten/kota untuk mewaspadai potensi KLB penyakit ini.

Dihubungi SP di Jakarta, Minggu (5/1/2020), Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Anung Sugihantono yang menandatangani surat edaran tersebut mengatakan, di Indonesia kasus leptospirosis cenderung meningkat setiap tahunnya.

Pada 2016, Kemkes mencatat ada sebanyak 830 kasus dengan 61 kematian. Jumlah kasus meningkat di 2017 sebanyak 940 kasus dengan 236 kematian. Kemudian 2018 sebanyak 894 kasus dengan 150 kematian, dan sampai Oktober 2019 tercatat 686 kasus dengan 110 kematian.

Hingga Oktober 2019, sembilan provinsi telah melaporkan adanya peningkatan kasus leptospirosis dengan angka kematian atau case fatality rate (CFR) sebanyak 16% dari total kasus. Sembilan provinsi tersebut adalah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Maluku dan Sulawesi Selatan.

“Sehubungan dengan meningkatnya kasus leptospirosis di berbagai daerah yang dikhawatirkan berpotensi terjadi KLB seiring mulainya musim penghujan di seluruh wilayah di Indonesia, maka seluruh kepala dinas kesehatan dan jajarannya diminta untuk melakukan upaya kesiapsiagaan,” kata Anung.

Menurutnya, lesiapsiagaan menghadapi leptospirosis bisa dilakukan pemda dengan berbagai cara. Pertama, pemda melalui dinas kesehatan harus meningkatkan kegiatan penemuan kasus dini leptospirosis dengan pemeriksaan atau skrining cepat menggunakan rapid diagnostic tes (RDT). Setelah itu dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) maupun macroscopic aglutination tes (MAT) untuk memastikan positif atau tidak.

Kedua, menurut Anung, lakukan promosi kesehatan berupa sosialisasi atau kampanye secara masif agar masyarakat waspada terhadap penularan leptospirosis dengan selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat diimbau untuk membersihkan sarang dan memberantas tikus sesuai dengan pedoman.

Ketiga, tingkatkan kemampuan petugas dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan untuk mencegah dan mengendalikan leptospirosis di wilayah masing-masing. Keempat, lakukan pengobatan segera kepada orang yang diduga maupun yang sudah positif menderita leptospirosis sesuai dengan pedoman yang disudah ditetapkan di fasilitas kesehatan.

Kelima, tingkatkan sistem kewaspadaan dini (SKD) dengan kegiatan surveilen pada manusia dan faktor risiko dari leptospirosis. Keenam, koordinasi lintas program dan lintas sektor untuk kewaspadaan dan penanggulangan KLB Leptospirosis. Ketujuh, laporkan segera setiap kasus leptospirosis di wilayah masing-masing ke Kemkes melalui Subdit Zoonosis.

Anung menjelaskan, leptospirosis adalah penyakit zoonosis (bersumber binatang) bersifat akut atau mendadak dengan tingkat keparahan tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri genus leptosipira dengan spektrum penyakit yang luas dan dapat menyebabkan kematian. Faktor penular utama penyakit ini adalah rodentia atau tikus. Penularannya melalui kontak lansung atau tidak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi leptosipira.



Sumber: Suara Pembaruan