Leptospirosis, Penyakit Mematikan tetapi Sering Salah Didiagnosis

Leptospirosis, Penyakit Mematikan tetapi Sering Salah Didiagnosis
Ilustrasi pascabanjir. ( Foto: Antara / Muhammad Bagus Khoirunas )
Dina Manafe / IDS Senin, 6 Januari 2020 | 15:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pasbanjir, berbagai penyakit mengintai masyarakat. Salah satu yang berbahaya dan bisa menyebabkan kematian adalah leptospirosis. Meski berbahaya, penyakit ini cukup sulit untuk didiagnosis karena memiliki kesamaan gejala dengan beberapa penyakit lainnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoontik Kemkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pada 2020 belum ada laporan kasus baru leptospirosis termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat yang mengalami kebanjiran. Kasus baru dilaporkan dari Kalimantan Selatan, tetapi masih harus dikonfirmasi oleh Kemkes dan belum dipastikan positif. Sebab menurut Nadya, leptospirosis ini sulit untuk didiagnosis meskipun dilakukan pemeriksaan rapid diagnostic tes (RDT).

“Leptospirosis ini kalau muncul gejala dua atau tiga hari kadang-kadang tidak positif. Memang ada RDT, tapi kalau sensitifitasnya tinggi sekali kadang tidak positif,” kata Nadya kepada SP, Senin (6/1/2020).

Namun, Nadya mengingatkan potensi kasus tinggi terjadi pascahujan dan banjir terjadi sekitar akhir Januari. Di saat banjir, risiko penularan tinggi karena kontak langsung manusia dengan air yang terkontaminasi kencing tikus, terutama pada mereka yang rumahnya kebanjiran, menembus banjir di jalanan, dan anak-anak yang berenang di banjir.

Menurut Nadya, sejumlah penyakit bisa muncul di musim penghujan ini selain leptospirosis, seperti diare, penyakit kulit, influenza, hepatitis A, dan tifoid. Bedanya, leptospirosis ini berbahaya karena tidak menunjukkan gejala khas. Selain itu kasusnya cepat menyebar, progresifitasnya tinggi ke bagian tubuh lain seperti ginjal dan paru, serta angka kematiannya lebih tinggi. Karena itulah, diingatkan agar pemda maupun masyarakat waspada pascabanjir dan musim hujan ini.

Nadya menjelaskan, angka kematian leptospirosis tinggi karena seringkali penyakit ini tidak menunjukkan gejala khas. Gejalanya mirip dengan flu biasa, seperti menggigil, batuk, sakit kepala tiba tiba, demam tinggi, hilang nafsu makan, mata merah dan iritasi, dan nyeri otot. Bahkan pemeriksaan RDT pun kadang tidak memberikan hasil positif ketika daya tahan tubuh penderitanya masih kuat. Petugas kesehatan pun kadang tidak menyadarinya dan salah mendiagnosa.

Karena itulah pemeriksaan lanjutan PCR dan MAT sangat diperlukan untuk memastikannya positif. Karena hasil diagnosa yang tepat menentukan pengobatannya. Contoh kasus, seorang pasien dirawat tujuh hari dengan tifoid, ternyata leptospirosis. Padahal leptospirosis mudah sembuh jika ditemukan dini dan diberikan antibiotik.

“Tapi kadang setelah diperiksa petugas kesehatan tidak positif leptospirosis, tetapi malah didiagnosa penyakit tifus yang tentu saja pengobatannya beda,” kata Nadya.



Sumber: Suara Pembaruan